Sastra Jiwa

Meretas jalan kebangkitan Ummat

Image

(inspirasi Qs Thoha : 43-44)

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas;

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

(TQS Thoha 43-44)

 

                Kupuja Allah Robb semesta alam dengan segala puja-puji terbaik yang pernah ada, atas nikmatNya yang tak pernah menepi, atas keinsyafan ummat yang telah lama sakit, atas kesadaran berukhuwah dan amal jama’i. semoga sholawat dan salam senantiasa menyertai Rosulallah SAW, pribadi biasa yang menjadi luar biasa karena ditarbiyah langsung oleh Allah.

 

                Risalah ini hadir sebagai respon akan kondisi ummat yang begitu ringkih padahal mimpinya adalah persatuan ummat, ummat yang munafik padahal harapnya adalah kejujuran, ummat yang sakit padahal citanya adalah kejayaan Islam. Sampai kapanpun harus ada yang berusaha dan bersiap untuk tampil menjadi pencerah, pembaharu dan perekat ummat.

 

                Risalah nubuwah menjadi salah satu sumber referensi utama setelah dustur yang mulia Qur’an, ummat yang bermimpi khilafah tegak, mereka yang bermimpi Islam menjadi soko guru dunia, mereka yang bermimpi izzah Islam mampu berdiri tegak menantang badai, mereka yang bermimpi ummat menjadi sholeh dan hanya bergantung kepada Allah saja dan siapupun mereka yang bermimpi ummat bangkit harus kemudian rela melepas jaket-jaket pribadi dan metodologi-metodologi golongannya pada kondisi dimana seharusnya saling memahami. Mudah-mudahan Allah berikan kita kecerdasan untuk mampu menguak Rahasia dibalik setiap Risalah Nubuwah sebagai Rancang bangun menuju kebangkitan ummat.

 

                Musuh-musuh Allah senantiasa tertawa dan merasa bahagia selama kita masih saling mencaci, membenci dan mencurigai. Beberapa dari kita begitu mudahnya menghujat atau bahkan mencaci sesama saudara muslim, terlebih lagi beliau yang dicaci adalah seorang penggiat dakwah islam juga. Jika kita gali pesan Allah yang diberikan kepada Musa As dan Harun As maka akan kita temukan Risalah yang akan menjadi pilar kebangkitan dan menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua.

 

                Allah Yang mulia memerintahkan kepada Musa As dan Harun As untuk pergi menemui Fir’aun karena sikap pongahnya yang sangat luar biasa, bahkan manusia ini tidak tanpa ragu-ragu menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Uniknya, Allah memerintahkan kepada mereka berdua untuk menemui fir’aun dengan kata-kata yang lemah lembut dengan harapan agar fir’aun takut.

 

                Wahai jiwa yang tenang, jika kita mau jujur, apakah orang yang selama ini kita sering hujat, caci dan curigai lebih parah tingkahnya dibandingkan fir’aun? Lalu apakah diri yang menghujat, mencaci dan mencurigai lebih mulia daripada Musa As atau Harun As? Bisa jadi, orang yang selama ini kita caci, hujat dan curigai adalah orang Allah cintai, orang yang senantiasa bangun dimalam hari dan berdo’a untuk kebangkitan ummat dan keselamatan untuk saudaranya sesama muslim bahkan termasuk didalamnya adalah orang yang mencaci, menghujat atau mencurigainya.

 

                Jika Musa As yang derajatnya lebih baik dari kita diminta menyeru fir’aun yang mungkar itu dengan cara yang santun maka kitapun harus mau berpikir lalu menggunakan segenap kemampuan potensi akal kita untuk menyeru dengan cara yang santun, agar penyelesaian masalah tidak menimbulkan masalah baru. walaupun diantara kita terlihat berbeda dari segi metodologi ataupun pandangan dalam perjuangan namun sejatinya memiliki tujuan yang sama. Yang harus dipastikan adalah dasar dari segala dasar perjuangan adalah Manhaj Qur’an dan Sunnah Rosulallah SAW. Kita bagaikan bernagkat dari titik tolak yang berbeda serta liku jalan yang berbeda, namun yang harus dipastikan adalah arah dan tujuan kita sama-sama menuju kelangit dan menggapai RidhoNya, sehingga, seharusnya kita saling menopang, menghargai pada perbedaan yang bukan pokok, saling menguatkan dan tidak ragu-ragu berjalan beriringan.

 

                Pada akhirnya kita harus berusaha meminimalisir hal sekecil apapun yang dapat menghalangi kebangkitan ummat. Lebih sibuk memikirkan masalah ummat dibandingkan memperbanyak simpatisan karena tujuan dakwah adalah mendekatkan ummat kepada Allah bukan pada kelompok kita, lebih sibuk memikirkan ummat yang sedang berada pada jurang maksiat disbanding perdebatan yang tidak substantif. Memberi koreksi kepada saudara kita adlah kewajiban sesama muslim namun tanpa perasaan kita yang lebih baik atau mulia dibandingkan yang dikoreksi. Karena kewajiban kita adalah mengingatkan dengan cara terbaik. Jikalau ada orang yang merasa lebih pintar hal itu karena Allah belum pernah membenturkan Ia dengan orang yang lebih pintar.

 

Wallhu’alam…

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Meretas jalan kebangkitan Ummat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s