Sastra Jiwa

Senja di Fly Over Matraman #1

Image

Ini tentang hidup yang hanya satu kali dan tidak mau disia-siakan begitu saja. Ini tentang keyakinan menembus batas bahwa kematian bukan untuk ditakutkan karena kematian adalah momentum yang pasti datang, jadi tidak usah diundang dan ini awal dari kehidupan panjang.

…………………………………………………..

Semilir angin pagi itu terasa berbeda ketika ku berangkat lebih dini dari biasanya, ya nampak sejuk membelai wajahku yang kala itu memakai helm tanpa tutup wajah. Seperti biasa, hingar bingar kehidupan Jakarta sudah mulai memainkan perannya. Teringat akan bait lagu SLANK ketika masa sekolahku dulu, “Jakarta Pagi Ini…”

Seperti biasa, kepergianku selalu  diawali denagn senyum damai seorang nenek tua-renta sebatang kara yang memang setiap pagi selalu duduk pada beranda rumahnya dan selalu menyapaku “Mau Berangkat A?” ya begitulah beliau menyapa kepada seorang pemuda yang memang peranakan Sunda. Kubalas dengan senyum hangat seraya berucap “iya mak…” sapaan tersebut benar-benar mengantarkan ku untuk memulai hari dengan penuh semangat, seolah terinspirasi dari ketegaran sang nenek yang tegar menghadapi hidup karena belakangan kuketahui sudah sejak lama beliau hidup menyendiri dan “ditinggal” sanak saudaranya..

Lamunanku pun terhenyak oleh suara gaduh dan bising klakson mobil dan motor ketika baru saja keluar dari jalan palmerah II, ya, itu jalan yang tiap harinya kulalui. Seperti biasa,  Arus padat mikrolet mulai terlihat dengan angkuhnya menguasai jalan serta antrian motor yang tak sabar menunggu giliran karena arus tertahan oleh Satpam sekolah Regina Pacis yang mendahulukan mobil-mobil pengantar anak-anak sekolah masuk kesekolahnya , sosok yang Tegap dengan kumis tebal terpelintir dan gelang hitam dari akar pohon yang melingkar di tangan kanannya ditambah lagi dengan cincin batu akik sebesar bola bekel yang berjajar di jari-jemarinya,. Ahhh, diri ini pun cukup segan untuk protes kepada sosok tersebut.

Kupacu sepeda motorku, laksana harmoni musik begitulah suara motorku. Perpaduan suara sumbang deruman motor yang seolah menggambarkan suara parau seorang tua dan suara cempreng lempengan cakram yang terpasang kendur pada ban depan motorku mengantarkan kepergianku setiap harinya. Ya,.. harmoni jiwa perjuangan aku menyebutnya, karena memang motor ini saksi hidup perjuangan seorang ayah yang berjuang untuk memberangkatkan anaknya untuk jauh lebih baik senyumnya dari kedua orang tuanya. Karena belakangan aku mengetahui bahwa motor ini sengaja dibeli dengan cara kredit khusus untuk keberangkatanku menuju etape kehidupan baru, etape dunia kampus.

Setelah beberapa waktu tibalah pada sebuah kampus yang belakangan ini kusebut dengan madrasah kehidupan karena memang mendidik diri ini untuk tidak takut hidup dan sedikit tahu terkait rahasia kehidupan. Seperti biasa senyum ramah penjaga parkiran motor kampus mipa tersunggging dengan tulusnya menyambut setiap kedatangan para pengendara. Tangan cekatan dan matanya yang tajam berpadu seiya sekata untuk mencatat setiap nomor plat motor pada karcis motor berwarna biru langit yang biasa dibagikan kepada para pengendara.  Ku parkir motorku didekat lab biologi dibawah naungan rindang cabang sebuah pohon. Kuhampiri Babeh (sapaan akrab kami kepada penjaga parkir), disodorkannya karcis yang seudah tertulis nomor plat motorku B 5425 TW, terlihat begitu fasihnya Babeh menulis nomor tersebut, ya.. karena memang hanya aku saja yang memiliki motor yang begitu mudah dihapal bentuknya.

Di meja bercat abu-abu di deretan ruang tata usaha akademik dan kemahasiswaan dekat pos parkir babeh Terlihat beberapa mahasiswa sedang sibuk berpacu dengan waktu menyelesaikan tugas kuliahnya yang mungkin akan dikumpul jam 8 pagi ini. Hilir mudik mahasiswa sudah mulai terlihat memenuhi jalan menuju loby kampus dan ruang kuliah. Riuh ricuh obrolan mulai terdengar, mulai dari obrolan tugas, persiapan kuis, terkilirnya jari-jemari karena melahap laporan praktikum semalam suntuk serta agenda belajar keompok siang nanti. Ya.. beginilah iklim kampus ku, iklim mahasiswa Mipa yang kental dengan motivasi belajar tinggi dan tingkat kefokusan akedemik ynag tingi.

Kulangkahkan kaki ini menuju sebuah masjid yang cukup megah dikampus Timur UNJ, masjid satu-satunya di kampus timur. Salam dan senyum pun tak terasa deras mengalir sepanjang langkah membalas setiap salam dan senyum dari beberapa sahabat yang berpapasan.

“Assalamu’alaykum akhi… sebuah salam terdengar begitu bersahabat…

“wa’alaykum salam jawabku. Ternyata beliau adalah kakak tingkatku dikampus perjuangan ini, abustomih, yang biasa kami sapa kak Abus.

“hari ini ada kuliah akh (sapaan untuk saudara laki-laki)?” Tanya beliau.

“mhhhm ada kak sampai jam siang nanti” jawabku singkat. “ada apa ka?”

“nggak, nanti sore ada pertemuan BEM Jabotabek di UI antum bias ikut?” jelas belaiu.

Senyumku pun terkembang, “insya Allah ka” jawabku sumringah mendengar ajakan tersebut. Karena berarti hari ini aku akan berpetualang lagi menemukan beberapa makna hidup dengan bertemu dan bergulat ide dengan aktivis kampus lainnya.

“berangkat jam berapa kak? Dan ketemuan dimana?” tanyaku bersemangat,

“ba’da ashar aja akh, ketemuan di Bemun(sekretariat Bem UNJ) aja ya”..

“OK kak Insya Allah”..

Kami pun melangkah menuju masjid untuk menghadapkan wajah kami dan menundukan tubuh serta hati kami pada Allah Robb semesta alam dalam sujud hikmat kami diwaktu dhuha.

Jam dinding menunjukan kearah tertentu dan ini berarti menandakan kaki ini harus melangkah menuju ruang kuliah. Deretan bangku kuliah yang rapih pada ruang 1.6 A sudah terlihat mulai terpenuhi oleh teman-teman kelasku, obrolan mulai menguap ke udara sambil menunggu kedatangan dosen. Gerombolan symbol dan kata-kata ricuh berpada di papan tulis. X, Y, Z, A, B dan C huruf yang paling ramah menyapa mata sayu kami yang hampir tertutup menahan penatnya materi hari ini.. fiuhhh..

 

Hayya ‘alash sholah…

 begitulah penggalan kumandang azan Ashar terdengar begitu merdu dan menjadi pertanda “kebebasan” dari ruang 5×5 yang penuh dengan gerombolan ricuh symbol dan huruf-huruf, seolah mempelajari bahasa baru dalm peradaban ini.

setelah ini berarti petualangan baru dengan seorang kakak. Ya, sejak pertemuan yang memesona pasca MPA 2006 yang lalu maka pertemuan selanjutnya adalah petualangan baru untukku.

Assalamu’alaykum.. kusampaikan salam kepada seluruh yang ada di seisi ruang BEM UNJ.

‘alaykumsalam. Jawab mereka yang ada di ruang tersebut.

“mau ke mana Di?” Tanya seorang kakak kepadaku, karena mungkin beliau melihatku memakai jaket merah maroon bermotiv abu-abu yang biasa kupakai berkendara serta  menenteng dua helm, satu helm berwarna hitam penuh dengan coretan yang khas dan satu lagi adalah helm berwarna putih bermotiv hijau yang kupinjam dari seorang teman.

mau ke UI mba bareng kaka bus” jawab ku dengan senyum..

“owwww.. bareng kakakny ya,. Kamu memang abus ke-2” tukas seorang kakak di ruang tersebut.

Aku hanya tersenyum, karena memang hampir setiap hari dan momentum kami selalu berdua, sampai-sampai aku dibilang seperti itu..

Kupacu sepeda motorku, tidak terlalu kencang karena memang tidak bias kencang dan jalan mulai agak ramai.

kita mau bahas apa ka di UI nanti?” Tanya ku kepada kaka bus memulai pembicaraan kami.

“kita mau bahas persiapan aksi besar akhi, karena rencananya kita akan mengepung istana dan bermalam disana sampai SBY mau menemui kita.” Besar kemungkinan aka nada tindakan refresif dari aparat jika kita memaksa untuk bermalam, karena menurut Protap yang ada, massa aksi hanya diizinkan sampai jam 18.00 saja maksimal.

Aku hanya terdiam mencoba mendeskripsikan kondisi tersebut dalam benakku, karena aksi seperti ini belum pernah kualami sebelumnya.

Tiba-tiba lamunanku terpecah ketika terlontar pertanyaan “ akhi, kalau antum tertembak, kira-kira mau tertembak disebelah mana?”

Aku terdiam, hingga beberapa detik aku baru mulai berani menjawab “ Di kepala aja kak, biar langsung mati dan gak tersiksa karena terlalu lama menahan rasa sakit”. Sejenak aku pun terdiam memikirkan apa yang telah aku ucapkan, seraya bertanya mengapa bisa berkata tadi.

Beliaupun tersenyum dan mulai berkata “kalau ana di mana aja boleh, asal jangan ketembak di bagian muka, bisa ilang ganteng ana” haaaaa. Suasana kembali cair setelah ucapan tadi, ya begitulah kak Abus.

Sepanjang perjalanan aku pun merenungi dialog tadi, tepat di atas Fly over matraman, jalan yang hampir setiap hari kami lalui. Aku teringat ketika suatu waktu sedang dengan beliau, dan beliau berkata

“akhi, memilih menjadi aktivis berarti harus siap dengan pilihan tersebut dan segala konsekunsinya, antum tidak boleh takut dengan kematian, kemiskinan, akademik dan masa depan, karena mati pasti akan dating walau kita tidak jadi aktivis, karena Allah tidak akan mungkin membiarkan kita mati kelaparan dan nilai akademik yang tidak terpalikasikan akan membuat antum menjadi budak intelektual saja.” Inilah yang kemudian aku sebut dengan aqidah pergerakan yang harus dimiliki oleh mereka yang mau mewaqafkan dirinya di jalan juang.

Ya.. kita memang pemuda yang sering bercerai dengan kasur empuk dan limpahan makanan, kita adalah pemuda yang akrab dengan maut an bersahabat dengan jalanan. Dan kelak jalanan mengajrkanku banyak hal, salah satunya adalah tidak mengabaikan mereka yang terasing di jalan.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s