Sastra Jiwa

Tunduk Tersenyum

20131128-004329.jpg

Ada yg lebih Indah daripada
Terang Bulan ditengah padam Lampu…
Yg cahayanya mampu membedakan antara selai roti dan salep bisul

Ada yang Lebih membahagiakan
Dibandingkan sejuknya mandalawangi…
Konon, sejuknya mampu padamkan gelisah…

Ia adalah kabar dari Nabi SAW tentang Allah yg Maha pengampun..

Ia adalah Takdir Indah yg memaksa kau tunduk taat melepas gelisah..

Aku Tulis ini di persimpangan Takdir dan tersenyum kpd sang Takdir..
Sungguh kehendakMu menenangkan..

Timur Jakarta
-jeehadielbanna-

Advertisements
Sastra Jiwa

Aku dan Dunia

Dear Dunia,
Hanya karena ku mencintaimu, bukan berarti aku takut kehilanganmu…

Karena kami paham kepada Siapa cinta ini kami persembahkan…

Tidak mengapa seluruh Dunia menatap sinis, Asal Allah tersenyum kpda kami..

Marahmu tak seberapa, hanya cukup untuk membuat kami terkejut lalu siap melawan lagi…
Yang aku takut adalah MarahNya…

Kau hendak musuhi kami? Kucilkan kami? Tidak mengapa, asal jangan kami dikucilkan olehNya…
Hendak kemana kami melangkah..

“Dialog Imajiner”

-jeehadielbanna-
Selatan Tangerang

Sastra Jiwa

Tidak Ada Wanita Muslimah Tanpa Jilbab di Patani

Tidak Ada Wanita Muslimah Tanpa Jilbab di Patani
By PKS PIYUNGANon Fri, 22 Nov 2013

TIDAK ada wanita muslimah tanpa jilbab di Patani. Mungkin Itulah kalimat pas untuk menujukkan semangat muslimah di daerah basis muslim di Selatan Thailand tersebut. Di tiap sudut jalan, kita menemui banyaknya para muslimah memakai jilbab bahkan cadar.

“Seluruh muslimah di Patani memakai jilbab, jika ada perempuan tidak berjilbab, maka dia orang Budha!” tandas Zakariya, Aktivis Hak Asasi Manusia, kepada Islampos di Patani.

Meski stigma Islam sebagai teroris dilancarkan, Muslimah Patani pantang untuk melepas jilbab. Dalam segala aktivitas, jilbab menjadi bagian tak terpisahkan bagi mereka.

“Jilbab adalah ajaran Islam. Dan Melayu adalah Islam. Jika ada orang Melayu tidak pakai jilbab, berarti dia bukan orang Melayu,” tandas Zakariya yang pernah mendapat delapan tusukan dari tentara Thailand.

Bahkan dalam penelusuran ke Mahad Al Bithath Ad-Diniyah, Islampos menemukan lautan jilbab dari para pelajar. Pihak Mahad memang mewajibkan setiap pelajar putri untuk mengenakan jilbab lebar hingga menutupi dada.

“Ini adalah pakaian Syar’i untuk muslimah,” kata staff pengajar Abdullah di Mahad yang menampung 6000 pelajar tersebut. (islampos)

Sastra Jiwa

Muhammad al-Ahmar Pahlawan dari Granada

Sekitar tahun 1240 M, Spanyol yang muslim sedang dalam keadaan terpuruk dan mengalami kekacauan. Negara itu sedang diperebutkan oleh raja-raja Kristen Eropa, siapa di antara mereka yang paling kuat, maka akan menguasai negeri muslim di Eropa tersebut. Padahal sebelumnya umat Islam adalah kelompok yang disegani oleh penguasa-penguasa Eropa. Keadaan demikian terus menyelimuti umat Islam di Spanyol sepanjang abad ke-12 Masehi atau abad ke-6 Hijriyah.

Walaupun dalam keadaan terpuruk, negara Islam di Andalusia ini masih memiliki harapan, mereka belum 100% tamat dan hanya meninggalkan sejarah. Saat itu muncullah seorang pahlawan besar yang bernama Muhammad bin Yusuf al-Ahmar atau lebih dikenal dengan Muhammad al-Ahmar dari bani al-Ahmar. Ia selalu memikirkan cara agar umat Islam bisa mengecap masa kejayaan kembali di benua biru tersebut. Ia terus memutar otaknya, mengumpulkan masalah-masalah dan mencari solusinya.

Bisakah Muhammad al-Ahmar bisa menyelamatkan Andalus dari bibir jurang yang terbuka lebar? Berikut ini uraian kisahnya.

Peluang Muhammad al-Ahmar dimulai ketika terjadi kekosongan kekuasaan di Kerajaan Granada. Saat penguasa Granada wafat, sang raja meninggalkan kekuasaannya tanpa pengganti atau pewaris. Muhammad al-Ahmar dibantu oleh rekan-rekannya dengan cepat bergerak dan mengambil alih kekuasaan yang kosong kala itu. Granada yang merupakan kerajaan terbesar di Andalusia ditambah sebuah wilayah kecil yang dikenal dengan wilayah Miriyah ia siapkan untuk mengecap kembali kejayaan Islam di tanah Andalusia.

Pada tahun 1244 M, Raja Qusytala, Ferdinand III yang beragama Kristen mendengar berita-berita tentang Muhammad al-Ahmar. Ia mendengar tentang bagaimana rakyat Granada mencintai dan menghormati raja mereka ini. Ia juga mendapat kabar tentang semangat, kecerdasan, dan cita-cita raja muda ini untuk mengembalikan kejayaan umat Islam. Ferdinand pun mulai merasa terganggu dengan kabar-kabar tersebut. Ia khawatir kalau Muhammad al-Ahmar akan menggagalkan amibisinya menguasai kerajaan-kerajaan Islam di Andalusia. Oleh karena itu, Ferdinand berjanji kepada dirinya sendiri untuk menundukkan Muhammad al-Ahmar.

Tidak menunggu waktu yang lama, Ferdinand segera mengirim pasukan besar untuk menyerang Granada. Dalam penyerangannya yang pertama, pasukan Ferdinand dengan mudah dipukul mundur oleh mujahid-mujahid Granada. Kedatangan mereka disambut dengan hujan panah yang membuat mereka mundur dan kalah.

Mendengar kekalahan pasukannya, Ferdinand semakin yakin bahwa Muhammad al-Ahmar benar-benar merupakan ancaman besar. Ia memutuskan untuk berangkat berperang dan memimpin langsung pasukannya menyerang Granada. Dengan peralatan yang lebih lengkap serta dukungan penuh rakyatnya sempurnalah persiapan Ferdinand III.

Di sinilah kita dibuat takjub terhadap langkah politik yang diambil oleh Muhammad al-Ahmar, manakala mengetahui persiapan yang dilakukan oleh Ferdinand III. Muhammad al-Ahmar sadar betul bahwa ia tidak akan mampu melawan pasukan yang dibawa oleh Ferdinand III, Granada baru saja mulai bangkit dari keterpurukan yang mereka alami, di atas kertas tidak mungkin mereka akan menang melawan Kerajaan Kristen Qusytala yang sudah mapan. Muhammad al-Ahmar pun memutuskan untuk menyerah kepada Ferdinand III, menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Qusytala, dan memberikan loyalitasnya kepada mereka. Muhammad al-Ahmar bersedia membayar pajak yang ditetapkan oleh Ferdinand hingga saat yang belum ia ketahui. Raja Ferdinand III pulang ke negaranya dengan kepala tegak dan sorak sorai kemenangan, mereka berhasil menaklukkan Granada tanpa mengangkat senjata.

Sepuluh tahun setelah Muhammad al-Ahmar merelakan Granada tunduk kepada Qusytala, ia pun membuat keputusan yang sangat berani. Granada baru telah lahir, Granada yang kuat, yang memiliki benteng-benteng yang kokoh dan tentara-tentara yang tangguh dengan perlengkapan yang mumpuni sepuluh kali lipat lebih kuat dibanding sepuluh tahun yang lalu. Masyarakat Granada hari ini juga masyarakat yang memiliki persatuan yang amat kuat, mereka tidak lagi berbicara tentang keuasaan, akan tetapi pembicaraan mereka adalah tentang kemenangan.

Dengan persiapan seperti itu, Muhammad al-Ahmar pun mengumumkan penolakan membayar pajak kepada Raja Ferdinand III, ia enggan untuk tunduk di bawah kekuasaannya seperti yang telah ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir ini. Muhammad al-Ahmar juga menggandeng rekan-rekannya dari Bani Marin dan raja-raja Afrika untuk sama-sama menghadapi Kerajaan Qusytala.

Penolakan tersebut ditanggapi Ferdinand dengan ekspansi militer. Pasukan Kristen Eropa itu datang dengan percaya diri yang tinggi karena ketidaktahuan mereka tentang Granada yang baru. perang sengit pun terjadi, Muhammad al-Ahmar memimpin pasukannya menyerang pasukan musuh, menusuk dan mengayunkan pedangnya dengan kuat untuk mengahantam musuh. Ia tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi, yang ada di benaknya adalah menghabisi musuh sebanyak-banyaknya dan menggapai kemenangan.

Muhammad al-Ahmar tidak berhenti maju menerobos dan mengayunkan senjatanya sampai ia mendengar ucapan, “Cukup wahai panglima, tidak ada yang tersisa lagi dari pihak musuh.” Muhammad al-Ahmar dengan sedikit bingung sambil menjawab dengan suara keras, “Benarkah perang telah selesai?!” “Benar wahai panglima, kita menang Alhamdulillah. Orang-orang kafir telah berlari kocar-kacir.” Muhammad al-Ahmar berteriak gembira, “Kita menang!! Kita menang!! Allahu Akbar!! Allahu Akbar!!” Kaum muslimin pun turut bertakbir dan bergemuruhlah medan perang dengan kalimat takbir.

Pelajaran:

Mengalah dengan perhitungan realistis bukanlah suatu kekalahan, terlebih lagi masa-masa “mengalah” itu diisi dengan persiapan untuk menjemput kemenangan. Apabila kebijaka yang dilakukan Muhammad al-Ahmar dilakukan pada zaman sekarang ini, mungkin akan mendapat banyak celaan dari banyak umat Islam. Umat Islam akan mengarahkan telunjuk mereka kepada Muhammad al-Ahmar sembari mengatakan, “Mengapa engkau menyerah? Apakah engkau takut mati? Bukankah kita memiliki semboyan hidup mulia atau mati syahid? Tidak hidup hina dengan tunduk di bawah kekuasaan orang kafir dan membayar pajak kepada mereka.” Tapi ternyata kebijakannya tersebut malah berbuah kejayaan bagi umat Islam di Granada, kejayaan yang berlangsung kurang lebih sdua abad sebelum runtuhnya Kerajaan Granada.

Sama halnya dengan apa yang dilakukan sebagian negara-negara Islam yang baru mempersiapkan kekuatan militer mereka, membangun ekonomi yang kokoh, rakyat yang sejahtera, dan keadaan negara yang stabil dan makmur, negara-negara ini dituduh sebagai antek Amerika atau takut kepada Amerika. Padahal bisa jadi ini adalah sebuah strategi, sebagaimana Muhammad al-Ahmar yang malah melakukan hal yang lebih parah dengan membayar pajak. Amerika dan Eropa saat ini adalah negara yang kuat, yang memiliki pengaruh yang sangat kuat pula, memiliki militer yang tangguh serta ekonomi yang mapan. Mengadakan konfrontasi dengan negara-negara Barat secara terang-terang malah bisa menimbulkan mafsadat yang lebih besar terhadap negara Islam dan umat Islam itu sendiri, Allahu a’lam. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatukan barisan kaum muslimin, memberikan kekuatan atas musuh-musuh mereka, dan memuliakan keudukan umat Islam di muka bumi ini.

Sumber: Asy-Syabakah al-Islamiyah oleh Husein Mu’nis

Ditulis oleh Nurfitri Hadi, M.A.

Sastra Jiwa

Sabar Adalah Tuntutan Setiap Mihwar Dakwah

Sabar Adalah Tuntutan Setiap Mihwar Dakwah

Oleh : Cahyadi Takariawan

Kamis (21 Nopember 2013) kemarin, ustadz Anis Matta memberikan taujih kepada para aktivis dan qiyadah dakwah yang berkumpul di Jakarta Convention Center (JCC). Di antara isi taujih beliau adalah tentang pentingnya kita menguatkan kesabaran dalam menapaki jalan perjuangan. Menurut beliau, sabar adalah karakter dan akhlaq yang paling banyak disebut di dalam Al Qur’an, sampai para ulama menyebut sabar sebagai induknya semua akhlaq terpuji.

Tiada hentinya kita harus mengingatkan diri tentang kesabaran. Bukan hanya karena di jalan dakwah akan banyak tantangan dan hambatan dari luar. Makar, konspirasi, pembusukan karakter, pengadilan yang tidak adil, persepsi publik yang negatif, penyelewengan opini lewat berbagai media, dan lain sebagainya. Namun kesabaran ini diperlukan di setiap mihwar, karena secara internal pun dakwah ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang sabar.

Sabar, sabar, sabar… Beginilah jalan dakwah telah kita lalui. Berkomunitas bersama orang-orang salih bukannya tanpa masalah, maka Allah memerintahkan agar kita selalu bersabar bersama mereka :

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (Al Kahfi : 28).

Bisa jadi ada salah paham di antara para aktivis. Bisa jadi ada ketidaknyamanan perasaan di antara para pelaku dakwah. Bisa jadi ada gesekan-gesekan antar aktivis dakwah dalam kancah politik praktis. Bisa jadi ada data yang kurang valid, namun digunakan untuk pengambilan keputusan. Bisa jadi ada stigma yang menganga, dan tidak pernah ada pengadilan yang memberikan klarifikasi. Bisa jadi ada persepsi yang keliru terhadap seorang aktivis namun diyakini dan digunakan untuk memberikan penilaian kepadanya. Bisa jadi ada ketidaktepatan dalam menerapkan teori-teori fiqih dakwah yang telah dipelajari selama ini.

Capek, lelah mendera jiwa dan raga. Namun ini adalah pilihan, yang tidak ada sedikitpun paksaan kita bersamanya. Bisa jadi di sepanjang perjalanan dakwah ini ada ketidakpahaman, ada ketidakmengertian, dan kita tidak pernah menemukan jawaban. Bisa jadi Khalid bin Walid tidak pernah mengerti mengapa dirinya diganti dari posisi panglima perang yang demikian dihormati. Namun toh kehormatan dirinya tidak runtuh karena posisi itu tidak lagi dia miliki.

Kehormatan diri kita adanya pada konsistensi. Konsisten menapaki kebenaran. Konsisten menapaki jalan kebaikan. Komitmen pada peraturan. Teguh memegang keputusan. Mendengar dan taat, itulah karakter kader teladan. Bukankah ini ujian, karena yang kita dengar dan kita taati bisa jadi berbeda dengan suara hati nurani. “Qum Ya Hudzaifah !”Menggelegar suara perintah. Dan Hudzaifah segera bangkit berdiri. Taat tanpa kompromi kepada Sang Nabi.

Kehormatan diri bukan terletak pada posisi kita sebagai apa. Tidak menjadi apa-apa, tetap bisa dihormati. Kita terhormat karena karakter yang kuat, kita terhormat karena karya yang tiada pernah berhenti, kita terhormat karena kerja yang terus menerus, kita terhormat karena keteladanan, kita terhormat karena konsisten, kita terhormat karena kesabaran dan kesetiaan di jalanNya.

Sabar, itulah kunci keberhasilan dakwah di setiap mihwar.

Sastra Jiwa

Hanzhalah, Sang Pengantin Langit

Seorang sahabat Nabi yang dimandikan malaikat saat wafatnya, saat ia hendak bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
———————————————————————————————————————

Malam hari menyelimuti kota Madinah, bintang-bintang bertaburan membawa keheningan dan ketenangan bagi seluruh alam yang lelah oleh kesibukan siang dan letih oleh aktifitas di muka bumi. Nyanyian sore mengalun meniup lirih kelopak mata untuk memasuki alam mimpi yang indah. Malam membawa kita kepada sebuah perasaan khusus, seolah ala mini milik kita semata. Malam membebaskan ruh seorang mukmin supaya jernih sedikit demi sedikit, sehingga ia pun bisa menyatu dengan kekhusyuan yang mendalam merenungi penciptanya, bersuci dan bersujud di hadapan-Nya.

Sore itu sama seperti sore-sore biasanya, tetapi tidak bagi Hanzhalah radhiallahu ‘anhu. Hari ini adalah hari impiannya, ia mempunyai janji khusus pada sore itu, hari yang telah lama ia nantikan, hari dimana ia berjumpa dengan istri tercinta, Jamilah. Hari ini adalah hari ketika mereka berdua menjadi pengantin yang penuh bahagia.

Pertemuan Ataukah Perpisahan

Takdir Allah Ta’ala mengantarkan Hanzhalah kepada kebaikan, menikah dengan kekasihnya Jamilah dimana pagi harinya Perang Uhud menawarkan sesuatu antara benci dan cinta. Keengganan berpisah dari kekasihnya dan kerinduan akan pahala syuhada dan gugur di medan jihad meninggikan kalimat Allah. Hanzhalah pun bermalam bersama istrinya, ia tidak tahu pasti apakah ini pertemuan atau perpisahan bersama sang kekasih.

Betapa manisnya hari itu, betapa indahnya pernikahan hari itu. Aroma harum menghiasi detik demi detik, rahasia apa yang tersembunyi di balik hari itu bagi Hanzhalah radhiallahu ‘anhu dan istrinya yang dipenuhi kerinduan. Air mata bahagia pun menetes tak terasa. Ia memeluk sang kekasih seperti seorang tamu yang hendak pergi, seperti khayalan yang dilihatnya, sementara ia tidak memilikinya. Hanzhalah radhiallahu ‘anhu terlihat seperti langit, dekat tapi jauh.

Hanzhalah menyatukan cintanya yang kecil dengan cinta yang besar, agar bisa memberinya kebesaran dan kehormatan. Dia memeluknya, agar cinta dari langit yang kekal menyatu dengan cinta manusiawinya yang fana, maka masuklah kekekalan dan keadabian. Hanzhalah radhiallahu ‘anhu mengaktifkan perhitungan dan perbandingan emosional itu di hati dan pikirannya. Dia mengambil keputusannya dengan cepat seiring hembusan fajar. Manakala dia menyimak panggilan jihad, dia pun keluar dengan segera.

Dalam keadaan junub, tidak menunggu mandi, dia bangkit di tengah air mata sang kekasih dan kerinduan hati yang haus akan pandangan istri tercinta. Dia bangkit, sementara kerinduan masih berdenyut seiring detak jantungnya. Rindu kepada saat-saat bertemu yang kemudian berlalu begitu saja dan berubah menjadi angan-angan semata.

Hanzhalah berangkat. Dia telah menjadikan hawa nafsunya seperti tanah yang terinjak oleh kakinya. Cinta yang besar mengalahkan semuanya. Hanzhalah menang melawan dirinya, Hanzhalah menang atas Hanzhalah.

Cinta Adalah Air Mata… Cinta Adalah Emosi

Hanzhalah sang mujahid, sang pengantin satu malam telah bangkit menenteng senjata menyusul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusun barisan pasukan, menyusun barisan hati untuk dijual di jalan Allah. Hanzhalah turun ke pasar surga dan peperangan pun mulai berkecamuk.

Di awal perang, kemenangan pun sudah tampak dalam genggaman. Akan tetapi manakala para pemanah beranjak dari pos mereka, manakala penjual berubah menjadi pembeli maka timbangan peperangan pun berbalik. Orang-orang musyrik merangsek maju dengan barisannya yang kuat. Hanzhala masih terus membuktikan cintanya yang besar kepada Allah, dan dia benar-benar membuat kita malu. Dia maju ke arah Abu Sufyan bin Harb, mematahkan kaki kudanya dan membuat Abu Sufyan terpelanting jatuh ke tanah. Dalam situasi seperti itu, datanglah Syaddan bin Aswad untuk menolong Abu Sufyan dari Hanzhalah. Maka Syaddad pu berhasil membunuh sang pemiliki hati yang suci dengan sebilah tombak yang menghantam tubuh Hanzhalah.

Hanzhalah radhiallahu ‘anhu pergi meninggalkan kita, meninggalkan darah yang harum, meninggalkan pelajaran tentang pengorbanan seorang hamba kepada Allahu Subhanahu wa Ta’ala. Membangunkan jiwa kita yang tertidur dan melecut semangatnya. Mengajarkan bagaimana menunggang kuda-kuda syahadah dan membuang kuda-kuda khayalan.

Hujan Rindu dari Langit

Perang telah usai, para mujahidin berjejer menyaksikan saudara-saudara mereka yang telah membeli surga dengan jiwa-jiwa mereka. Mereka mencari sahabat-sahabat mereka yang telah gugur. Hati yang selalu menunggu janji langit sedang mencari hati yang mendahuluinya ke langit. Tangan mereka meraba-raba jasad Hanzhalah yang berlumur darah. Mereka herang dengan tetesan air yang menempel di dahinya, menetes dari ujung rambutnya mengingatkan pada air mata Jamilah yang bersedih.

Tetesan air yang masih menjadi misteri tak terpecahkan oleh para sahabat. Seandainya mereka tidak mendegat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Aku melihat para malaikat memandikan Hanzhalah bin Abu Amir di antara langit dan bumi dengan embun di dalam bejana-bejana perak.”

Kabilah Aus, kabilah Hanzhalah, selalu membanggakannya. Mereka berkata, “Di antara kami terdapat seseorang yang dimandikan malaikat, dialah Hanzhalah bin Abu Amir. Di antara kami terdapat seseorang yang jasadnya dilindungi oleh lebah, dialah Ashim bin Tsabit. Di antara kami terdapat orang yang kesaksiannya disamakan dengan kesaksian dua orang, dialah Khuzaimah bin Tsabit. Dan di antara kami terdapat orang dimana arasy Allah Maha Rahman bergoncang karena kematiannya, yaitu Saad bin Muadz.”

Kenangan Sang Kekasih

Jamilah terus mereguk kenangan akan pertemuan singkat yang terpatri dalam jiwanya. Senandung kasih abadi merek berdua tidak mungkin dilupakan wanginya, masih tercium di tempat tidurnya. Wajahnya terpampang di atap kamarnya. Setelah kedua matanya tenteram dengan cahaya kematian syahid suaminya, dia masih membayangkan melihatnya di negeri langit.

Jamilah masih menceritakan kepada para tetangga bahwa dia melihat Hanzhalah sesaat sebelum malam pernikahannya. Bagaimana mimpi itu bisa menjadi kenyataan. Jamilah bermimpi melihat langit terbelah untuk Hanzhalah, maka dia masuk dan setelah itu langit pun menutup lagi.

Sepertinya mimpi ini menghakhawatirkan Jamilah. Dia melihat mimpi itu membawa awan kelam dan ketakutan. Hingga dia meminta kepada empat orang kaumnya untuk menjadi saksi bahwa Hanzhalah telah benar-benar menikah dengannya. Siapa sangka bahwa mimpi yang dia takutkan membawa keburukan dan karenanya dia berantisipasi dari fitnah dan tuduhan ternyata justru membawa kabar gembira dari langit dan memberikan kepadanya predikat istri seorang syuhada.

Sumber: Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf

Sastra Jiwa

Pengaruh Ilmu terhadap Amal

Pengaruh Ilmu terhadap Amal

Sahabat..,
Ada yang enggan datang ke dokter memeriksa kesehatannya. Takutnya mengetahui penyakit membuat ia rela tetap menderita dan terus menerus melakukan kebiasaan lamanya yang salah.

Sahabat..
Ada yang berani ke dokter ingin tahu penyakitnya. Walau mahal bayarnya, ia juga rela bersusah payah menjaga pantangannya.

Sahabat..,
Bagaimana dengan perumpamaan yang dibuat Rasulullah? Andai tahu keutamaaan shalat isya dan shubuh berjamaah niscaya merangkak sekalipun akan dilakukan juga.

Atau bila tertarik pada keutamaan shaff pertama dalam berjamaah niscaya mereka siap diundi untuk memperebutkannya. Demikian pula dengan kebaikan yang lainnya. Tetapi bagaimana kita menyambutnya?

Sahabat..,
Subhanallah. Dahsyatnya ilmu dan pengetahuan mampu mempengaruhi langkah kita. Renungkanlah firman Allah, artinya: “sesungguhnya yang hanya takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu (ulama)” (Q.S. Fathir: 28) sudahkah ilmu membekali langkah? Semangat beraktifitas!

-Disalin dari pesan seorang Teman-