Sastra Jiwa

Raja Arab yang Hafal Qur’an sang pembela Ummat

Mengenal Raja Faishal bin Abdul Aziz Alu Su’ud

“Apakah kalian melihat pohon-pohon ini (pohon kurma)?! Sungguh ayah dan nenek moyang kita ratusan tahun mampu bertahan hidup hanya dengan memakan buahnya. Kita pun demikian, kita siap kembali tinggal di kemah-kemah seperti mereka. Kita tidak butuh (uang dari penjualan) minyak, kalau hanya digunakan musuh kita untuk memerangi (saudara-saudara) kita.”

Inilah potongan pidato Raja Faishal bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi, ketika melihat Amerika berpihak kepada Israel yang mencaplok tanah Palestina. Beliau menyatakan siap hidup miskin, tinggal di kemah-kemah seperti seorang badui dan siap hanya memakan kurma saja sebagaimana leluhurnya dahulu sebagai konsekuensi mengembargo ekspor minyak ke Amerika.

Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya

Dia adalah Faishal bin Abdul Aziz bin Abdurrahman al-Faishal Alu Su’ud. Ia dilahirkan di Riyadh, bulan Safar 1324 H bertepatan dengan April 1906 M. Hari kelahirannya tepat bersamaan dengan kemenangan sang ayah, Abdul Aziz Alu Su’ud, dalam Perang Raudhah al-Hana, salah satu perang terpenting yang melatarbelakangi terbentuknya Kerajaan Arab Saudi jilid III.

Faishal kecil mulai mempelajari agama Islam di lingkungan rumahnya dengan guru-guru yang kompeten. Gurunya yang paling terkenal dan berpengaruh terhadap keilmuannya adalah Syaikh Abdullah bin Abdul Latif Alu asy-Syaikh, salah seorang keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Faishal mampu menghafal Alquran di usia yang sangat belia, di usia yang belum genap 13 tahun. Sebagaimana tradisi Arab dan kerajaan-kerajaan Islam sebelumnya, putra mahkota akan dilatih menunggang kuda dan terampil menggunakan senjata (bela diri) di masa kecil mereka, demikian juga Faishal, ia mengalami masa kecil yang tidak jauh berbeda dari masa kecil raja-raja Islam di abad klasik.

Di usia 13 tahun, untuk pertama kalinya Faishal turut serta berperang bersama ayahnya. Saat itu memang bangsa Arab terpecah-pecah bukan hanya dalam bentuk negara bahkan menjadi bersuku-suku. Tiga tahun kemudian, di usia 16 tahun, ia dipercaya memimpin pasukan menaklukkan wilayah Hail (kota di Barat Laut Arab Saudi sekarang), kemudian di usia 20 tahun dipercaya sebagai pemimpin pasukan menghadapi pemberontak dari Yaman. Setelah pemberontak Yaman ini mulai lemah dan kerajaan mampu untuk menaklukkan Kota Shan’a, Raja Abdul Aziz menyepakati perjanjian damai dengan orang-orang Yaman. Faishal muda yang masih bergejolak semangatnya, merasa kecewa dan menolak keputusan sang ayah, namun dari sanalah ia belajar tentang kebijaksanaan, kemenangan tidak hanya diukur dengan kekuatan pedang. Dari kejadian itu juga sang ayah mengajarkan kepadanya bagaimana mengambil tindakan dalam politik luar negeri.

Diangkat Menjadi Menteri Luar Negeri

Negara pertama yang dikunjungi Faishal bin Abdul Aziz ketika menjabat menteri luar negeri adalah Kerajaan Inggris. Ia mengadakan dialog dan menjalin kesepakatan-kesepakatan dengan negeri Ratu Elisabet tersebut. Pada tahun 1939, atas perintah ayahnya, Faishal kembali mengunjungi Inggris untuk melobi kerajaan tersebut agar tidak menjadikan wilayah Palestina sebagai negara Yahudi. Saudi berusaha melobi Inggris dengan tawaran kesepakatan tentang kerja sama minyak antara dua negara. Namun superioritas Inggris kala itu tidak bisa dipengaruhi dengan kekuatan minyak Arab Saudi.

Untuk mempromosikannya dan membuatnya semakin dikenal dunia, ayahnya, Raja Abdul Aziz, menambah jabatannya. Selain sebagai menteri luar negeri, ia juga dipercaya sebagai amir wilayah Hijaz, karena Hijaz yang terdapat Mekah dan Madinah sangat erat kaitannya dengan dunia Islam secara umum. Dan kebijakan ini semakin mengasah kemampuannya untuk menjadi seorang pemimpin yang besar.

Menjadi Raja Arab Saudi

Pada bulan Rabiul Awal bertepatan dengan November 1953, Raja Faishal diangkat menjadi raja Arab Saudi menggantikan saudaranya, Raja Saud bin Abdul Aziz. Sebelumnya Raja Faishal menduduki posisi putra mahkota (crown prince). Ia dilantik menjadi raja tanggal 2 November 1964.

Dalam pidato pertamanya sebagai raja, ia mengatakan, “Aku memohon kepada saudara-saudaraku, untuk mengangap aku sebagai seorang saudara dan pelayan Anda, kemuliaan hanyalah milik Allah.”

Salah satu kebijakan penting yang dibuat Raja Faishal di awal pemerintahannya adalah ia menghapus aturan-aturan yang terkesan mebuat jarak antara raja dan rakyatnya dan hubungan antara sesama rakyat; ia menghapuskatn protokoler mencium tangan raja dalam acara kenegaraan, menghapuskan perbudakan, bagi mereka yang memiliki budak agar segera membebaskan budak-budak tersebut dan negara menanggung kompensasinya. Negara mengeluarkan 60 juta Real untuk pembebasan budak. Tidak berhenti sampai disitu, mantan budak ini diakui dan dimuliakan oleh negara dengan diberi kewarganegaraan.

Kemudian Raja Faishal juga secara progresif memperbaiki perekonomian kerajaan yang cukup terpuruk. Di awal pemerintahannya kas negara hanya sebesar 2.000.000.000 Real kemudian di tahun 1975 menjadi 22. 810.000.000 Real. Upaya-upaya perbaikan ekonomi terus dilakukan oleh Raja Faishal terutama membebaskan ketergantungan Real terhadap Dolar Amerika.

Perbaikan di sektor pendidikan pun menjadi perhatian utama Raja Faishal, karena ia menyadari pondasi utama untuk memperbaiki dan membangun negara adalah berangkat dari kualitas pendidikan yang baik. Ia membangun banyak sekolah di seluruh wilayah Arab Saudi, sekolah untuk anak laki-laki dan anak perempuan, kemudian juga membangun universitas dan tempat-tempat penelitian ilmiah.

Pembangunan-pembangunan fisik dan infrastruktur yang baik juga tidak lepas dari perhatiannya; pembangunan jalan-jalan, jaringan listrik, fasilitas perairan, pabrik-pabrik dan kilang minyak, penyiaran, dan telekomunikasi.

Kebijakan Politik Luar Negeri

Banyak sekali kebijakan-kebijakan luar negeri Raja Faishal yang berpihak kepada Islam dan dunia Arab. Ia membentuk Rabithah al-‘Alam al-Islami. Ia juga terkenal sebagai pemimpin Arab yang sangat vokal dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina, memfasilitasi organisasi yang berjuang untuk kemerdekaan tersebut baik secara materi maupun lobi-lobi politik.

Dalam sebuah pidatonya yang fenomenal, tentang pembebasan Palestina, ia menyerukan rakyatnya untuk berjihad melawan Yahudi di tanah Palestina.

“Saudara-saudaraku, apa yang kita tunggu? Apakah kita menunggu nurani dunia? Dimanakah nurani dunia itu?

Sesungguhnya al-Quds yang mulia memanggil kalian dan meminta tolong kepada kalian, wahai saudara-saudara, agar kalian menolongnya dari musibah dan apa yang menimpanya. Apa yang membuat kita takut? Apakah kita takut mati? Padahal adakah kematian yang mulia dan lebih utama dari orang yang mati berjihad di jalan Allah?

Wahai saudaraku kaum muslimin, kita semua harus bangkit! demi kebangkitan Islam, yang tidak dipengaruhi oleh kesukuan, kebangsaan, dan juga partai. Tapi dakwah islamiyah, seruan kepada jihad fi sabilillah, di jalan membela agama dan akidah kita, membela kesucian kita.

Dan aku berharap kepada Allah, jika menetapkan aku mati, maka agar Dia aku syahid fi sabilillah.

Saudaraku, maafkanlah aku, agar kalian tidak menuntutku. Karena sesungguhnya ketika aku berteriak (saat ini), masjid mulia kita sedang dihinakan dan dilecehkan, dipraktekkan di dalamnya kekejian, kemaksiatan, dan penyimpangan moral.

Sesungguhnya aku berharap kepada Allah dengan ikhlas, jika aku tidak mampu melaksanakan jihad, tidak mampu membebaskan al-Quds … agar dia tidak menghidupkan aku setelah ini..”

Raja Faishal meneruskan langkah sang ayah, Raja Abdul Aziz, menjalin hubungan diplomatik yang erat dengan Amerika Serikat. Dua negara ini bekerja sama dalam perdagangan senjata dan pelatihan militer sampai akhirnya hubungan ini pun retak dikarenakan campur tangan Amerika terhadap isu-isu sensitif di Timur Tengah.

Pada tahun 1973, Amerika menekan negara-negara Arab, khususnya Mesir, dalam Perang Yom Kipur. Negara adidaya tersebut mengancam akan menyerang Mesir apabila Mesir meneruskan agresinya ke Israel. Mendengar kabar tersebut Raja Faishal pun marah dan menyatakan perang secara ekonomi dengan Amerika Serikat dengan cara mengembargo ekspor minyak mereka ke negara adidaya itu. Kebijakan ini benar-benar menciutkan Amerika beserta negara-negara Pakta Perlawanan Atlantik Utara (N.A.T.O) yang mendukungnya.

Presiden Amerika saat itu, Richard Nixon sampai turun tangan langsung untuk meredakan kemarahan Raja Faishal. Ia datang ke Arab Saudi untuk berdialog dengan Raja Faishal membahas embargo yang dilakukan Saudi. Namun Nixon harus pulang dengan rasa rendah diri setelah mendengar ucapan Raja Faishal, “Tidak akan ada perdamaian sebelum Israel mengembalikan tanah-tanah Arab yang dirampas pada tahun 1967!”

Wafatnya

Apa yang dilakukan Raja Faishal terhadap Richard Nixon dan negaranya ternyata berbuntut panjang, dan disinyalir menjadi penyebab kematiannya. Pada tanggal 12 Rabiul Awal 1395 / 25 Maret 1975, keponakan Raja Faishal yang bernama Faishal bin Mus’ad bin Abdul Aziz yang baru saja pulang dari Amerika datang menemuinya. Di ruang tunggu, Faishal bin Mus’ad berbicara dengan delegasi Quwait yang juga ingin bertemu Raja.

Saat Raja datang menemui mereka, Faishal bin Mus’ad mendekati Raja dan berpura-pura hendak memeluknya, Raja Faishal yang tidak mengetahui niat busuk keponakannya ini dengan senang hati menyambut keponakannya dan mendekatinya untuk menciumnya sebagaimana budaya Arab Saudi pada umumnya. Lalu Faishal bin Mus’ad mengeluarkan pistolnya, dan menembakkannya kea rah Raja Faishal; tembakan pertama mengenai dagu Raja Faishal dan tembakan kedua mengenai telinganya. Para pengawal Raja menangkap Faishal bin Mus’ad dan menghentikan kebrutalannya lalu raja segera dibawa ke rumah sakit. Namun sayang, nyawa Raja Faishal sudah tidak tertolong lagi karena kehilangan banyak darah. Ia wafat tidak lama setelah kejadian itu.

Dari hasil penyidikan, disinyalir bahwa Faishal bin Mus’ad memiliki gangguan jiwa, namun ada juga yang menyatakan ia hendak membalas dendam atas tewasnya saudaranya Khalid bin Mus’ad karena kekeliruan kebijakan kerajaan. Faishal bin Mus’ad pun divonis hukum pancung. Eksekusi dilaksanakan di Riyadh, 18 Juni 1975, di sore hari.

Semoga Allah membalas jasa-jasa Raja Faishal untuk Islam dan kaum muslimin dan menempatkannya di surga yang penuh kedamaian.

Sumber: islamstory.com dll.

Ditulis oleh Nurfitri Hadi
Artikel KisahMuslim.com

Sastra Jiwa

Hampir Saja AKu Menjual Islam Dengan Harga 20 PINIS

Beberapa waktu yang lalu datanglah seorang imam yang baru di masjid London, salah satu kota di Inggris.
Dan Imam ini setiap harinya naik bis dari rumahnya menuju ke kota sehingga sering naik bis dengan supir yang sama !
Suatu hari beliau naik bis dan kemudian membayar harga karcisnya dan langsung duduk ! selang beberapa lama pak supir mengembalikan uang kembalianya, begitu beliau melihat uangnya, ternyata pak supir mengembalikan uang sisanya berlebih 20 pinis !
Sang Imam langsung berfikir untuk mengembalikan uang lebihnya karena bukan haknya !

tapi muncul dalam benaknya bisikan : lupakan urusan ini ! sisanya tidak seberapa, tidak ada seorangpun yang memperhatikannya, sebagaimana perusahaan bis mendapatkan pemasukan yang sangat banyak, uang segini tidak ada artinya bagi mereka dan tidak mengurangi sedikitpun pendapatannya !
Biar saya bawa, aku akan diam dan tidak akan aku kembalikan !

Berhentilah bis pada terminal yang dikehendaki sang Imam, sebelum keluar dari bis, Imam tersebut berhenti sejenak dan mengulurkan tangannya kepada sang supir dan berkata : ambillah ! anda memberikan kepada saya uang lebih dari yang semestinya aku terima !

Tersenyumlah sang supir seraya bertanya : bukankah anda Imam yang baru di masjid kota kami ini ? sejak beberapa waktu yang lalu aku berfikir hendak pergi ke masjid anda untuk mengenal agama Islam lebih dekat ! uang lebih tadi aku berikan kepada anda dengan sengaja untuk mengetahui bagaimana sikap anda !
Ketika sang Imam tadi turun dari bis, dia merasakan kedua lututnya menjadi lumpuh, tidak kuat menahan tubuhnya dan badannya hampir terjatuh merasakan beratnya peristiwa tersebut !

Kemudian berpegang dengan salah satu tiang di dekatnya, agar tidak terjatuh sambil memandang ke atas langit dan berdoa disertai tangisan : Ya Allah ! hampir saja aku menjual agama Islam dengan harga 20 pinis !

hikmahnya : janganlah sekali-kali meremehkan amanah sekecil apapun karena sekecil apapun amanah tersebut ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah!

Ditulis oleh Ustadz Abu Saad
Artikel http://www.KisahMuslim.com

Sastra Jiwa

Canda Renyah Bocah Pengantar Jenazah

Jika ada yg takut beban hidup,
Belajarlah dari bocah manis asal Batam Yg senantiasa melempar senyum kepada semua yg ia temui…

Padahal bisa jdi sebentar lagi Ia mengantar Jenazah Bunda tercinta..

Jika masih ada yg lupa dirinya Hamba..
Datanglah ke sini, dengarkan kisah pilu tentang Kanker Ganas penggrogot organ..

Jika masih ada yg sombong….
Datanglah ke sini, lihat kering kerontang tubuh terkulai…

Kau selalu Tau cara Terbaik mengingatkan Kami yg Lupa kampung akhirat…

Kau selalu Tau cara Terbaik melipur lara, kami yg tak pandai Bersyukur..

Jeehadielbanna
25 desember 2013
-Dharmais, Barat Jakarta-

Sastra Jiwa

Ketukan Pintu yang Mengantarkan Nenek tua masuk Islam

Kisah Inspiratif Hari Ini…

Setiap selesai sholat jum’at tiap pekannya, seorang imam (masjid) dan anaknya (yg berumur 11 tahun) mempunyai jadwal membagikan buku – buku islam, diantaranya buku at-thoriq ilal jannah (jalan menuju surga). Mereka membagikannya di daerah mereka di pinggiran Kota Amsterdam.
***

Namun tibalah suatu hari, ketika kota tersebut diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu yang sangat dingin.

Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan memakai beberapa lapis pakaian demi mengurangi rasa dingin. Setelah selesai mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, aku telah siap” ayahnya menjawab : “Siap untuk apa?” , ia berkata: “Untuk membagikan buku (seperti biasanya)”, sang ayahpun berucap: “Suhu sangat dingin diluar sana, belum lagi hujan lebat yang mengguyur”, sang anak menimpali dengan jawaban yang menakjubkan : “akan tetapi, sungguh banyak orang yang berjalan menuju neraka diluar sana dibawah guyuran hujan”.
Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya seraya berkata: “Namun ayah tidak akan keluar dengan cuaca seperti ini”, akhirnya anak tersebut meminta izin untuk keluar sendiri. Sang ayah berpikir sejenak dan akhirnya memberikan izin. Iapun mengambil beberapa buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan berkata: “terimakasih wahai ayahku”.
***

Dibawah guyuran hujan yang cukup deras, ditemani rasa dingin yang menggigit, anak itu membagikan buku kepada setiap orang yang ditemui. Tidak hanya itu, beberapa rumahpun ia hampiri demi tersebarnya buku tersebut.
***

Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku ditangannya. Namun sudah tidak ada orang yang lewat di lorong tersebut. Akhirnya ia memilih untuk menghampiri sebuah rumah disebrang jalan untuk menyerahkan buku terakhir tersebut.

Sesampainya di depat rumah, iapun memencet bel, tapi tidak ada respon. Ia ulangi beberapa kali, hasilnya tetap sama. Ketika hendak beranjak seperti ada yang menahan langkahnya, dan ia coba sekali lagi ditambah ketukan tangan kecilnya. Sebenarnya ia juga tidak mengerti kenapa ia begitu penasaran dengan rumah tersebut.

Pintupun terbuka perlahan, disertai munculnya sesosok nenek yang tampak sangat sedih. Nenek berkata: “ada yang bisa saya bantu nak?” Si anak berkata (dg mata yg berkilau dan senyuman yang menerangi dunia): “Saya minta maaf jika mengganggu, akan tetapi saya ingin menyampaikan bahwa Allah sangat mencintai dan memperhatikan nyonya. Kemudian saya ingin menghadiahkan buku ini kepada nyonya, di dalam nya dijelaskan tentang Allah Ta’ala, kewajiban seorang hamba, dan tips-tips memperoleh keridhoannya.
***

Satu pekan berlalu, seperti biasa sang imam memberikan ceramah di masjid. Seusai ceramah ia mempersilahkan jama’ah untuk berkonsultasi. Terdengar sayup – sayup dr shaf perempuan seorang perempuan tua berkata:”Tidak ada seorangpun yang mengenal saya disini, dan belum ada yang mengunjungiku sebelumnya. Satu pekan yang lalu saya bukanlah seorang muslim, bahkan tidak pernah terbetik dalam pikiranku hal tersebut sedikitpun. Suamiku telah wafat dan dia meninggalkanku sebatang kara di bumi ini”.

Dan iapun memulai ceritanya bertemu anak itu.
Ketika itu cuaca sangat dingin disertai hujan lebat, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Kesedihanku sangat mendalam, dan tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup. Akupun naik ke atas kursi dan mengalungkan leherku dengan seutas tali yang sdh kutambatkan sebelumnya. Ketika hendak melompat, terdengar olehku suara bel. Aku terdiam sejenak dan berpikir :”paling sebentar lagi juga pergi”.
Namun suara bel dan ketukan pintu semakin kuat. Aku berkata dalam hati: “siapa gerangan yang sudi mengunjungiku,… tidak akan ada yang mengetuk pintu rumahku”.

Kulepaskan tali yang sdh siap membantuku mengakhiri nyawaku, dan bergegas ke pintu. ketika pintu kubuka, aku melihat sesosok anak kecil dengan pandangan dan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak mampu menggambarkan sosoknya kepada kalian.
Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku yang mati hingga bangkit kembali. Ia berkata: “Nyonya, saya datang untuk menyampaikan bahwa Allah [truncated by WhatsApp]
Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku yang mati hingga bangkit kembali. Ia berkata: “Nyonya, saya datang untuk menyampaikan bahwa Allah Ta’ala sangat menyayangi dan memperhatikan nyonya”, lalu dia memberikan buku ini (buku jalan menuju surga) kepadaku.

Malaikat kecil itu datang kepadaku secara tiba-tiba, dan menghilang dibalik guyuran hujan hari itu juga secara tiba2. Setelah menutup pintu aku langsung membaca buku dari malaikat kecilku itu sampai selesai. Seketika kusingkirkan tali dan kursi yang telah menungguku, karena aku tidak akan membutuhkannya lagi.
Sekarang lihatlah aku, diriku sangat bahagia karena aku telah mengenal Tuhanku yang sesungguhnya. Akupun sengaja mendatangi kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku tersebut untuk berterimakasih kepada kalian yang telah mengirimkan malaikat kecilku pada waktu yang tepat. Hingga aku terbebas dari kekalnya api neraka.
***

Air mata semua orang mengalir tanpa terbendung, masjid bergemuruh dengan isak tangis dan pekikan takbir… Allahu akbar…
***

Sang imam (ayah dari anak itu) beranjak menuju tempat dimana malaikat kecil itu duduk dan memeluknya erat, dan tangisnyapun pecah tak terbendung dihadapan para jamaah.
Sungguh mengharukan, mungkin tidak ada seorang ayahpun yang tidak bangga terhadap anaknya seperti yang dirasakan imam tersebut.
***
Judul asli : قصة رائعة جدا ومعبرة ومؤثرة
Penerjemah : Shiddiq Al-Bonjowiy

Sastra Jiwa

Surat Terbuka Ustadz Arifin Ilham untuk Kapolri

By PKS PIYUNGANon Tue, 10 Dec 2013

Ayahanda tercinta Jendral Sutarman, Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh…

Semoga ayahanda selalu dalam hidayah dan berkah Allah bersama keluarga dan keluarga besar Polri… Aamiin.

Sejak ayahanda membolehkan Muslimat polisi berjilbab, suka cita, ucapan Alhamdulillah, sujud syukur, pujian dan doa untuk ayahanda dipanjatkan. Lalu kenapa dicabut dan ditunda lagi ayahanda.

Ayah, hidup kita tidak lama di dunia sebentar ini, jabatan yang Allah amanahkan untuk ayah akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, keputusan ayah membolehkan jilbab adalah keputusan sangat bijak dan tepat. Dan berita gembira untuk ayahanda, bukan hanya sebagai Pelopor Jilbab yang akan dikenang sejarah walaupun ayah sudah wafat tetapi bernilai amal jariyah yang mengalir terus menerus sebanyak Muslimat polisi mengenakannya.

Allah berfirman, “Barang siapa memberi keputusan atau kebiasaan yang baik, lalu banyak yang mengikutinya maka sebanyak itu ganjaran mengalir Allah berikan kepadanya, tetapi sebaliknya barang siapa membuat keputusan atau kebiasaan buruk, lalu banyak yang mengikutinya maka sebanyak itu dosa yang ditimpakan kepadanya.” (QS An Nisa 85)

Ayah, kalau memang belum dibuat aturan hukum bakunya, jangan diperintahkan untuk menanggalkan jilbab bagi Muslimat polisi yang sudah berjilbab, apalagi sampai memecat mereka, terlalu besar resikonya di akhirat kelak. Sayangilah Muslimat POLRI ayah, mereka juga putri putri ayah. Buatlah sejarah yang indah mengesankan, ayah. Hidup ini sebentar ayah.

Ayah, jangan ragu ragu, kami sangat mendukung dan mendoakan ayah agar ayah lulus menjaga amanah Allah. Negeri tercinta ini membutuhkan pemimpin yang sangat takut kepada Allah dan sangat sayang pada rakyatnya.

Dari nanda Muhammad Arifin Ilham, seorang anak bangsa yang mencintai ayahanda Sutarman.

Mohon doa, dukungan dan sebarkan ini sahabatku tercinta.

Allahumma ya Allah berilah hidayahMu untuk para pemimpin negeri yang kami cintai ini… Aamiin.

*sumber: fimadani

:: PKS PIYUNGANKlik Download App BB | Klik Download App Android