Sastra Jiwa

“Pahlawan Dalam Diam”

“Pahlawan Dalam Diam” | By @ewahyudie
pkssumut.or.id.

Waktu tengah beranjak di sepertiga malam. Hujan rintik jatuh ke bumi diiringi suara katak bersahutan. Dingin. Angin berembus menjelajah sela dedaunan. Saat itu, ketika kebanyakan manusia terlelap dibalik kehangatan selimut, dua orang manusia terlihat sibuk menyusuri sepanjang jalan, menapaki gang demi gang. Menerobos hujan. Hanya bermodalkan sepeda motor butut.

Senyap keduanya bergerak penuh kehati-hatian. Gerakan-gerakan cepatnya menandakan keberadaan mereka tak ingin diketahui orang lain. Namun sangat disayangkan, sepasang mata Ustadz Narlis ternyata berhasil mengawasi gerak-gerik mereka. Sang Ustadz pun perlahan mendekat.

“Siapa itu?” tanya Ustadz Narlis. Kedua orang itu terperanjat kaget.

“Afwan (maaf-red), ini ana, Ustadz. Satu lagi putra ana,” sosok yang lebih besar menjawab tergagap.

Ustadz Narlis tak kalah terkejut. Temaram lampu dan rintik hujan ternyata mengaburkan pandangan beliau dari sosok yang sejatinya telah ia kenali.

“Subhanallah…antum sedang apa hujan-hujanan seperti ini?,” tanya Ustadz.

“Ana…afwan, Ustadz. Ana sedang memasang stiker milik caleg-caleg PKS. Ana ingin turut membantu kemenangan dakwah ini, Ustadz,” tuturnya.

“Lho bukannya antum caleg juga?”

“Betul sekali, Ustadz. Ana caleg. Tapi demi Allah, ana tak memiliki dana untuk membuat stiker, baliho dan atribut lainnya. Untuk biaya hidup saja kesulitan…,” sesaat lelaki ini menghela nafas dalam.

“Ana mohon izin, Ustadz. Biarlah ana menjadi tim sukses bagi saudara-saudara ana yang lainnya. Ana ikhlas demi dakwah ini, Ustadz,” tulus lelaki ini berujar.

Hujan, dingin, angin. Ketiganya belum jua berhenti. Kalimat demi kalimat sang lelaki menghunjam kesadaran Ustadz Narlis. Membawa beliau menelusuri kiprah dalam pengabdiannya kepada dakwah ini. Namun Ustadz Narlis sadar, nun jauh di lubuk hati beliau mengakui, lelaki di hadapannya adalah orang yang penuh ikhlas dan berjuang karena Allah Swt semata.

“Demi Allah, mulai malam ini, antum adalah murabbi ana,” Ustadz Narlis tak kuasa menahan tangis. Beliau memeluk erat lelaki di hadapannnya. “Antum telah mengajarkan ana tentang keikhlasan yang luar biasa,” sang Ustadz melanjutkan. Keduanya berpelukan dalam jalin persaudaraan. Erat. Hangat. Saling menumpahkan air mata.

Ustadz Narlis begitu terenyuh. Yang ia kenal, lelaki di hadapannya begitu bersahaja. Tak pernah mengeluhkan kesulitan hidup kepada ikhwah lainnya. Hingga saat ia diamanahkan untuk menjadi calon anggota dewan pun, tak tampak raut gusar di wajahnya. Namun apa yang dilakukannya malam itu begitu luar biasa. Ia membantu memasang stiker dan atribut milik caleg-caleg dari PKS lainnya. Ia mampu menepis segala keserakahan akan jabatan dan lebih mengutamakan kemenangan perjuangan dakwah yang diretas Partai Keadilan Sejahtera.

“Ana mohon, jangan sebutkan nama ana kepada siapapun, ustadz. Biarlah hanya Ustadz dan Allah Swt yang tahu apa yang kami lakukan untuk dakwah ini,” sang lelaki berpesan.

“Ana berjanji tidak menyebut nama antum. Namun ana akan mengisahkan pertemuan kita ini sebagai pembelajaran bagi ana dan seluruh ikhwah kita,” demikian Ustadz Narlis menjawab.

Sejenak kemudian sang lelaki dan anaknya pergi. Meneruskan apa yang mereka kerjakan. Perlahan, sosok keduanya menghilang dalam gelap malam. Suara sepeda motornya lapat. Menghilang. Jauh. Dalam. Membawa segenap cita-cita kemenangan dakwah.

Dan Sang Ustadz tak henti meneteskan air mata. Untuk sebuah pelajaran berharga. Tentang keikhlasan, perjuangan, dan pengejawantahan nilai-nilai tarbiyah yang tak terkirakan di hadapannya. Tentang seorang caleg yang ikhlas membantu caleg lainnya dalam kesenyapan. Tentang sosok pejuang. Tentang sosok pahlawan yang bekerja dalam diam.

Pun tentang sebuah janji, untuk sebuah nama. Yang harus dijaga dalam hati. Hingga nanti di penghujung waktu. Hingga nanti, saat bersua di Jannah-Nya. Semoga. 

Oleh: Eko Cecep Wahyudi 
On Twitter @ewahyudie

_______

Dikisahkan oleh Ustadz Narlis, MA – Ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Provinsi Riau

Advertisements
Sastra Jiwa

#IBUBAIK MELAHIRKAN GENERASI BAIK

#IBUBAIK MELAHIRKAN GENERASI BAIK

by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1| Ibu adalah madrasah pertama seorang anak, dan AYAH adalah kepala sekolahnya 

2| Hak anak terhadap AYAHnya adalah mendapatkan #ibubaik. Sehingga awal menikah, AYAH bukan sekedar mencari istri namun juga ibu bagi anaknya nanti

3| Rasulullah mengatakan : nikahilah wanita yg subur (walud) dan punya jiwa pengasuhan (wadud). Ini standar dasar mencari #ibubaik untuk anak

4| Keluarga nabi nuh jadi ibrah. Betapapun beliau seorang nabi, tak mampu ajak anaknya kepada jalan Allah. Bermula dari istri yg bukan #ibubaik

5| Sementara keluarga Ibrahim dijadikan Allah sebagai teladan. Ibrahim yg super sibuk melahirkan generasi berkualitas. Bermula dari #ibubaik

6| Seorang Imran yg bukan Nabi pun digelari sbg keluarga terbaik. Tersebab pilihan ia memilih seorang wanita utk jadi #ibubaik bagi anaknya

7| Adalah Hana binti Fakhudz profil #ibubaik yg melahirkan anak wanita baik bernama maryam. Ditinggal mati oleh Imran saat mengandung anaknya

8| Saat hamil, ia jaga lisan dan pikiran dari hal yg dibenci Tuhan. Hingga ia hanya berharap satu hal : anaknya kelak jadi hamba yg taat 

9| Tak sedikitpun keluar kalimat buruk dari lisannya saat hamil. Sebab keburukan lisan saat hamil mmpengaruhi kejiwaan anak saat lahir 

10| Tak ada pikiran nakal saat anak dalam kandungan. Sebab pikiran jahat saat hamil memberi peluang setan tuk jadi teman anak saat lahir 

11| Hana adalah contoh bagaimana seorang #ibubaik hendaklah jaga pikiran, tindakan dan lisannya dari hal buruk saat hamil agar tak pengaruhi jiwa anak

12| Dan usaha hana terbukti. Lahirlah sosok maryam yg Allah pilih sebagai wanita suci. Wanita yg terbaik dan pilihan di masanya 

13| Kalaulah saat hamil, hana hanya pikirkan uang, popularitas dan kecantikan untuk bayinya. Bisa jadi, akan lahir anak yg gila dunia

14| Maka sekali lagi, penting bagi ibu yg sedang hamil untuj jaga lisan, pikiran dan tindakannya dari hal-hal yang tidak disukai Allah 

15| Tugas AYAH saat ibu hamil adalah menjaga agar apa-apa yg diucap dan dipikirkan oleh istrinya adalah hal yang baik-baik

16| Jika ibu hamil ngidam, maka pastikan bahwa ngidamnya adalah sesuatu yg baik. Misalnya ngidam umroh dan haji. Itu ngidam yg baik 😀 

17| Ibu hamil jangan ngidam yg aneh-aneh. Semisal ngidam jadi personil JKT48 :D. Agar si bayi kelak tidak berbuat yg aneh-aneh saat lahir

18| Termasuk hindari kebiasaan atau tradisi yg bertentangan dengan syariat. Agar anak sejak dalam kandungan benar-benar dididik jadi anak taat 

19| Kembali ke profil hana sebagai #ibubaik yg kisahnya diabadikan dalam quran. Beliau lalui proses kehamilan dgn baik hingga anak terlahir ke dunia

20| Anak yg semula diharap lelaki ternyata adalah wanita. Tak muncul protes atau keluh kesah kepada Allah. Yang ada hanyalah rasa syukur

21| Bersyukur kepada Allah terhadap apapun kondisi bayi saat kelahiran adlh adab dan ciri dari #ibubaik. Jangan kotori dengan keluh kesah apalagi umpatan

22| #ibubaik meyakini bahwa setiap bayi yg lahir punya rencana hidup masing-masing yg ditetapkan Allah. Maka tak ada alasan utk berkeluh kesah

23| Pun saat anak telah lahir, hana sbg profil #ibubaik dalam quran juga memikirkan hak anak utk dapat pengasuhan AYAH selepas imran tiada

24| Hana paham bahwa di usia dini seorang anak tidak hanya butuh figur ibu tapi juga AYAH. Agar memiliki karakter tangguh di masa depan

25| Dipilihlah Nabi Zakaria yg masih kerabat sebagai AYAH asuh bagi anaknya maryam. Hana sebagai single parent telah membuat keputusan tepat

26| Sehingga sosok maryam sebagai wanita terbaik di masanya, tak lepas dari peran AYAH mengasuh di masa kecil. Ini jadi perhatian bagi kita

27| #ibubaik tetap memikirkan agar anaknya tetap dapat figur AYAH di masa kecil yg ajarkan kemandirian, keberanian dan ketegasan

28| Status single parent tak jadi alasan utk mengabaikan hak anak terhadap kebutuhannya akan figur AYAH

29| #ibubaik bisa meminta kerabat terdekat untuk menggantikan peran AYAH yg hilang bagi anak di usia dini. Hal ini pula yg dialami oleh Rasulullah

30| Selepas kepergian Abdullah saat Rasulullah dalam kandungan, nilai keayahan tidak terhenti. Beliau segera diasuh oleh kakek dan pamannya 

31| Ini jadi pelajaran juga bagi para AYAH yg masih hidup, agar jangan kehilangan momen untuk mengasuh anaknya sedari dini

32| Agar tak muncul generasi ALAY alias Anak kehiLangan AYah. Ada ayah tapi serasa yatim. Ayah tak pernah bermain dengannya di masa kecil 

33| Maryam contoh anak yatim yg sukses. Sebab saat lahir ia tak kehilangan figur AYAH. Ada nabi zakaria yg jadi ayah asuhnya

34| Kisah lengkap tentang profil #ibubaik yakni istri imran ini ada di dalam Quran surah ali imran ayat 33 – 41. Sila ditadabburi

35| Semoga makin banyak #ibubaik di negeri ini. Begitu juga ayah baik. Agar muncul generasi berkarakter tangguh di masa depan. Sekian (bendri jaisyurrahman)

Sastra Jiwa

#IBUBAIK MELAHIRKAN GENERASI BAIK

by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1| Ibu adalah madrasah pertama seorang anak, dan AYAH adalah kepala sekolahnya 

2| Hak anak terhadap AYAHnya adalah mendapatkan #ibubaik. Sehingga awal menikah, AYAH bukan sekedar mencari istri namun juga ibu bagi anaknya nanti

3| Rasulullah mengatakan : nikahilah wanita yg subur (walud) dan punya jiwa pengasuhan (wadud). Ini standar dasar mencari #ibubaik untuk anak

4| Keluarga nabi nuh jadi ibrah. Betapapun beliau seorang nabi, tak mampu ajak anaknya kepada jalan Allah. Bermula dari istri yg bukan #ibubaik

5| Sementara keluarga Ibrahim dijadikan Allah sebagai teladan. Ibrahim yg super sibuk melahirkan generasi berkualitas. Bermula dari #ibubaik

6| Seorang Imran yg bukan Nabi pun digelari sbg keluarga terbaik. Tersebab pilihan ia memilih seorang wanita utk jadi #ibubaik bagi anaknya

7| Adalah Hana binti Fakhudz profil #ibubaik yg melahirkan anak wanita baik bernama maryam. Ditinggal mati oleh Imran saat mengandung anaknya

8| Saat hamil, ia jaga lisan dan pikiran dari hal yg dibenci Tuhan. Hingga ia hanya berharap satu hal : anaknya kelak jadi hamba yg taat 

9| Tak sedikitpun keluar kalimat buruk dari lisannya saat hamil. Sebab keburukan lisan saat hamil mmpengaruhi kejiwaan anak saat lahir 

10| Tak ada pikiran nakal saat anak dalam kandungan. Sebab pikiran jahat saat hamil memberi peluang setan tuk jadi teman anak saat lahir 

11| Hana adalah contoh bagaimana seorang #ibubaik hendaklah jaga pikiran, tindakan dan lisannya dari hal buruk saat hamil agar tak pengaruhi jiwa anak

12| Dan usaha hana terbukti. Lahirlah sosok maryam yg Allah pilih sebagai wanita suci. Wanita yg terbaik dan pilihan di masanya 

13| Kalaulah saat hamil, hana hanya pikirkan uang, popularitas dan kecantikan untuk bayinya. Bisa jadi, akan lahir anak yg gila dunia

14| Maka sekali lagi, penting bagi ibu yg sedang hamil untuj jaga lisan, pikiran dan tindakannya dari hal-hal yang tidak disukai Allah 

15| Tugas AYAH saat ibu hamil adalah menjaga agar apa-apa yg diucap dan dipikirkan oleh istrinya adalah hal yang baik-baik

16| Jika ibu hamil ngidam, maka pastikan bahwa ngidamnya adalah sesuatu yg baik. Misalnya ngidam umroh dan haji. Itu ngidam yg baik 😀 

17| Ibu hamil jangan ngidam yg aneh-aneh. Semisal ngidam jadi personil JKT48 :D. Agar si bayi kelak tidak berbuat yg aneh-aneh saat lahir

18| Termasuk hindari kebiasaan atau tradisi yg bertentangan dengan syariat. Agar anak sejak dalam kandungan benar-benar dididik jadi anak taat 

19| Kembali ke profil hana sebagai #ibubaik yg kisahnya diabadikan dalam quran. Beliau lalui proses kehamilan dgn baik hingga anak terlahir ke dunia

20| Anak yg semula diharap lelaki ternyata adalah wanita. Tak muncul protes atau keluh kesah kepada Allah. Yang ada hanyalah rasa syukur

21| Bersyukur kepada Allah terhadap apapun kondisi bayi saat kelahiran adlh adab dan ciri dari #ibubaik. Jangan kotori dengan keluh kesah apalagi umpatan

22| #ibubaik meyakini bahwa setiap bayi yg lahir punya rencana hidup masing-masing yg ditetapkan Allah. Maka tak ada alasan utk berkeluh kesah

23| Pun saat anak telah lahir, hana sbg profil #ibubaik dalam quran juga memikirkan hak anak utk dapat pengasuhan AYAH selepas imran tiada

24| Hana paham bahwa di usia dini seorang anak tidak hanya butuh figur ibu tapi juga AYAH. Agar memiliki karakter tangguh di masa depan

25| Dipilihlah Nabi Zakaria yg masih kerabat sebagai AYAH asuh bagi anaknya maryam. Hana sebagai single parent telah membuat keputusan tepat

26| Sehingga sosok maryam sebagai wanita terbaik di masanya, tak lepas dari peran AYAH mengasuh di masa kecil. Ini jadi perhatian bagi kita

27| #ibubaik tetap memikirkan agar anaknya tetap dapat figur AYAH di masa kecil yg ajarkan kemandirian, keberanian dan ketegasan

28| Status single parent tak jadi alasan utk mengabaikan hak anak terhadap kebutuhannya akan figur AYAH

29| #ibubaik bisa meminta kerabat terdekat untuk menggantikan peran AYAH yg hilang bagi anak di usia dini. Hal ini pula yg dialami oleh Rasulullah

30| Selepas kepergian Abdullah saat Rasulullah dalam kandungan, nilai keayahan tidak terhenti. Beliau segera diasuh oleh kakek dan pamannya 

31| Ini jadi pelajaran juga bagi para AYAH yg masih hidup, agar jangan kehilangan momen untuk mengasuh anaknya sedari dini

32| Agar tak muncul generasi ALAY alias Anak kehiLangan AYah. Ada ayah tapi serasa yatim. Ayah tak pernah bermain dengannya di masa kecil 

33| Maryam contoh anak yatim yg sukses. Sebab saat lahir ia tak kehilangan figur AYAH. Ada nabi zakaria yg jadi ayah asuhnya

34| Kisah lengkap tentang profil #ibubaik yakni istri imran ini ada di dalam Quran surah ali imran ayat 33 – 41. Sila ditadabburi

35| Semoga makin banyak #ibubaik di negeri ini. Begitu juga ayah baik. Agar muncul generasi berkarakter tangguh di masa depan. Sekian

(bendri jaisyurrahman)

Sastra Jiwa

Mantan Ketua Hizbut Tahrir Indonesia : Serukan Rebut Kekuasaan di Pemilu

KH Muhammad Al Khaththath
Sekjen Forum Umat Islam (FUI)

Mantan Ketua Hizbut Tahrir Indonesia : Pemilu Bukan Pesta Demokrasi tapi Momentum Rebut Kekuasaan
0 Headline, Oase Islam

KASURAU – Sabtu tengah malam Ahad 8 Maret 2014 di sebuah lapangan perumahan di bilangan Bojong Gede Bogor. Suara Imam Besar FPI Habib Rizieq, Singa Podium Utama negeri ini, begitu lantang mengajak umat Islam agar memenangkan Islam pada pemilu 2014 ini. Agar umat Islam jangan masa bodoh. Agar umat Islam sadar bahwa pemilu bukan pesta demokrasi, tapi pertarungan perebutan kekuasaan. Sebab, kalau umat Islam meleng, tidak waspada, kekuasaan bakal direbut orang lain.

Kepada mereka yang masih ributk tentang status pemilu dalam sistem demokrasi, halal apa haram?, Habib menegaskan “Rebut dulu baru ribut!”.

“Kalau kita ribut terus, lupa merebut kekuasaan, akhirnya kekuasaan direbut orang-orang liberal, orang-orang kafir, orang-orang munafik, dan orang-orang fasik!”.

Kalau mereka berhasil merebut kekuasaan legislatif dalam pemilu 9 April nanti, merekalah yang akan menentukan UU yang mengatur kehidupan kita ke depan. Padahal hari ini sudah antri berbagai RUU yang bertentangan dengan syariah, yang membahayakan kehidupan umat. Di antaranya adalah RUU kesetaraan gender yang salah satu pasalnya berbunyi: “Barang Siapa membedakan lelaki dan perempuan atas dasar gender, akan dipidana penjara…”. Padahal dalam Alquran Allah SWT menetapkan pembagian waris antara anak lelaki dan perempuan adalah dua banding satu.

Habib Rizieq adalah seorang orator ulung. Walau sudah lewat jam 12 malam, ribuan orang tidak beranjak dari tempat duduk mereka. Mereka menikmati uraian-uraian dan dialog tanya jawab Habib Rizieq yang cerdas dan mencerdaskan. Habib Rizieq mengatakan “Jika kaum liberal, kaum kafir, kaum munafik, dan kaum fasik menang dalam pemilu dan menguasai kursi di DPR, maka mereka akan mengundangkan RUU tersebut. Kalau nanti RUU tersebut disahkan sebagai undang-undang, maka jika suatu saat nanti seorang perempuan datang ke Imam Masjid lalu minta kepada Imam Masjid agar Jumat depan dia diperkenankan menjadi khatib Jumat, lalu dicegah dan dilarang oleh Imam Masjid karena bertentangan dengan syariah, dan perempuan tersebut lapor polisi karena dirinya dibeda-bedakan atas dasar jenis kelamin, maka Imam Masjid tersebut bisa ditangkap dan dipenjarakan!.”

Tentu UU seperti itu sangat berbahaya. Oleh karena itu, Habib meminta umat Islam agar jangan menyerahkan kekuasaan kepada kaum liberal, kafir, munafik, dan fasik. Habib mengatakan bahwa beliau dan seluruh muballigh FPI akan all out berkampanye mencegah hal itu jangan sampai terjadi.

Beliau menegaskan bahwa beliau tidak pernah mencalonkan diri sebagai Capres ataupun Caleg. Dan beliau tidak berkampanye untuk partai tertentu atau perorangan. Tapi beliau berkampanye untuk menangkan Islam. Beliau meminta umat Islam untuk memenangkan para caleg Syariah yang sudah bersumpah dan bertekad akan berjuang untuk mengundangkan syariah dan mengamandemen UU yang bertentangan dengan syariah serta bertekad mewujudkan NKRI Bersyariah.

Kita angkat topi dengan kejernihan berfikir Habib Rizieq Syihab serta ketulusan, kerendahan hati, dan tekad juang beliau untuk memenangkan Islam. Alangkah bagusnya kalau fikiran dan langkah beliau ini diikuti oleh para pimpinan ormas dan lembaga Islam serta para alim ulama dan habaib se Indonesia sehingga kemenangan Islam akan terwujud nyata.

Memang selama ini umat Islam bahkan tokoh-tokohnya banyak yang terkecoh oleh agen-agen kapitalisme Barat yang ingin terus melestarikan hegemoni mereka di Indonesia.

Para antek pengemban dan penjaga ide-ide demokrasi selalu menipu rakyat dalam setiap pemilu dengan istilah: “Pesta Demokrasi!” Berbagai poster dan umbul-umbul dipasang dan berbagai acara digelar untuk memeriahkan pesta demokrasi. Saking meriahnya bak lebaran yang merupakan hari raya umat Islam, penduduk mayoritas negeri ini. Kosakata pesta demokrasi ini sudah sekian lama disosialisasikan di masa Orba dengan jargon membuai: “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat!”.

Namun itu jargon kosong. Faktanya kekuasaan rakyat dirampas melalui pemilu, rakyat hanya ditipu dengan keramaian pestanya. Kekuasaan sepenuhnya dipegang oleh rezim Orba yang selalu menginstruksikan para Babinsa anggota TNI untuk menggiring dan menakut-nakuti rakyat dan PNS agar coblos Golkar. Mayoritas kue pembangunan dinikmati kroni-kroninya, yaitu keluarga Cendana dan para taipan keturunan Cina. Tumbangnya Rezim Orba tidak mengembalikan kekuasaan kepada rakyat yang mayoritas muslim.

Euforia reformasi dan demokratisasi ternyata menghasilkan kerusakan mental rakyat dan pejabat yang luar biasa akibat suap alias money politic. Kini mencuat istilah “wani piro” yang sudah membudaya di mana-mana. Rakyat banyak yang kehilangan akidah politiknya. Semurah harga mereka dimurtadkan, semurah itu pula mereka menyerahkan kekuasaan kepada kaum kafir, padahal Allah Swt melarangnya (QS. An Nisa 141).

Dengan budaya wani piro, mereka bisa membeli 120 juta suara dari 180 juta suara DPT (golput 30%) @Rp100 ribu, dengan Rp 12 triliun saja. Seorang taipan yang dapat proyek 120 T cukup menyisihkan 10 % dari nilai proyeknya. Kabarnya baru-baru ini di Singapura ada pertemuan 400 CEO dengan seorang jenderal yang mempresentasikan capres dukungan mereka. Apakah kita akan diam menonton mereka merebut negara kita? Kenapa kita tidak rebut untuk menegakkan syariah-Nya?.

KH Muhammad Al Khaththath
Sekjen Forum Umat Islam (FUI)