Sastra Jiwa

Istriku Teladanku

Beberapa pekan yg lalu saya pernah naik motor boncengan dengan seorang akhwat πŸ™‚

Menuju sepetak kantor usaha di kampung sawah, selatan Tangerang.
Suasana begitu panas dan terik, pada kondisi tersebut jika ada yang salah sedikit pasti muncul potensi “konflik”

Benar saja, selepas sholat zuhur di masjid persis depan kampus UIN jakarta, tukang Batagor menjadi korban kami…

Kami lumat dan tak kasih ampun, sepiring batagor yg nikmat tsb, alhamdulillah πŸ™‚

Panas Terik tidak selamanya berlangsung, karena menjelang habis batagor, langit mulai bermuram durja, rintik air mulai datang membawa teman-temannya.. Riang saling berkejaran…

Pandangan saya teralihkan persis kepada Nenek tua yg usianya tidak mungkin 17 Tahun πŸ™‚

Aku taksir usianya sudah diatas 70-an, perawakannya mirip almarhumah nenek saya di kota Tahu yg meninggal desember lalu..

Iba rasanya, karena nenek yg tak lagi muda itu, duduk beralaskan terpal biru dan berjajar rapih beberapa jinjing kantong buah dihadapannya, karena beliau memang sang penjual buah..

Tanpa papan harga apalagi tools marketing lainnya, nenek ini duduk sabar menanti pembeli di sebuah gang samping masjid.

Aku berpikir, siapa yg mau beli jika dagang di tempat seperti ini pun dengan tampilan “etalase” beralaskan terpal..

Masih ingat akhwat yg saya bonceng? πŸ™‚

Dia bergegas menghabiskan batagor, menghampiri sang Nenek dan berkata: “Nek, saya Beli sekantung salak ini ya” *senyum manis akhwat tsb merekah..

Diberikan uang dengan nominal tertentu dan ia berkata “kembaliannya untuk Nenek saja ya”

MasyaAllah, teori modern patah, luluh lantah dan hancur lebur dengan konspirasi langit..

Can you imagine???
Dagang di gang, “etalase” minimalis, tanpa alat pemasaran canggih dan ada transaksi jual beli tanpa tawar menawar…

Sepenggal episode tadi mengajarkan ku tentang gerakan sosial sederhana dari sang akhwat tadi. Aku tahu, dia tak butuh dengan sekantung salak nya, buktinya aku yg sudah berbadan mirip “beruang” madu ini harus ikut tanggungjawab menghabiskan salak tsb.

Pointnya adalah memberi kepada nenek tadi dengan teknik yg manis..

Nenek tadi mengajarkanku, bahwa tak ada yg mampu membendung Konspirasi langit, jika Allah sudah berkehendak ke arah mana rezeki ini akan berlabuh.

Seperti berlabuhnya hatiku pada dermaga hati akhwat tersebut.

You can call her Lintang Dwi Pratiwi.
My Beloved Wife, sholihah pemurah hati.

Barokallah,
Jazakillah teladannya.

@jeehadielbanna
2 mei 2014
Barat Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s