Sastra Jiwa

Betapa Mudahnya diri ini berprasangka…

Beberapa Hari lalu baca status FB dari kawan, kira2 bunyinya gini:

“Itu orang pasti gak ngerti agama deh, masa sholat sedekap tangan kirinya di atas tangan kanan sih????”

Ternyata lengan kanannya Disfungsi dan lengan kirinya harus menyangga

Astaghfirullah, begitu mudahnya diri ini berprasangka…

Dulu juga pernah disuatu rapat organisasi terjadi yg demikian. Sebut saja Dudung, aktivis yg dikenal ulet, amanah dan totalitas…

Pasa suatu rapat yg sangat penting karena amanah yg diemban oleh dudung, dudung malah tidak ada kabar apalagi gelagat hadir rapat.

2 jam sudah rapat berlangsung, lalu terdengar suara salam dari luar ruangan….

See,..
Ternyata itu Dudung dengan wajah kuyunya..

Spontan salah seorang peserta rapat berkata

“Baik kawan2 kita tutup rapat dengan lafadz hamdallah”
*bernada sindiran

“Wkkekekekekkwkwkkkw”

*Gelegar tawa dari kawan yg lain

Kemudian Dudung masuk dan berkata:

“Mohon maaf kawan, saya dtg telat, baru saja saya dari Rumah sakit, antar ibu Cangkok jantung. Ibu sudah ditangani dokter, maaf saya jadi telat dan lupa mengabari karena HP saya Gadaikan untuk tebusan biaya pendaftaran Operasi”

DUuuuaaaRrrrrrrr

*bak petir disiang bolong

Rapat Hening, tawa berubah haru..
Rasa bersalah mulai menggelayut..
Bbrapa selftalk dalam hati mengutuk diri..

Mhhhhmmmmm

Betapa mudahnya Diri ini justifikasi sebelum konfirmasi hadir…

Sahabat,
Kita perlu berlatih berpikir positif..
Kadang kita tak pandai menempatkan posisi..

Kadang Ilmu kita terbatas kerap kali terjebak pada sikap dadakan yg berujung tak elok..

Anak tak pernah cukup paham kondisi, lalu berprasangka kpd Org tua..
Yang belum pernah jadi ayah atau ibupun begitu, atau belum pernah jadi suami/istri, terkadang PERNAH..

Ada budaya yg sudah mulai tak lazim: KONFIRMASI dan berbesar hati untuk memberikan hak persaudaraan..
Karena Umumnya setiap kita menginginkan ingin dimaklumi…

Umumnya justifikasi terjadi sebelum ada penjelasan lengkap atau aktivitas bertanya pada saudaranya…

Masih banyak kesempatan untuk menahan diri dgn justifikasi negatif dan kesimpulan terlalu dini.

Kaji dulu fiqh prioritas seseorang tsb mengambil keputusan tsb, kaji juga dasar hukum seseorang tadi mengambil suatu sikap.. Etc..

Mari BERLATIH 🙂

Catatan:
-kisah dudung adalah fiksi belaka, mohon maaf jika ada nama atau kondisi yg serupa.
-tulisan ini bukan selftalk, karena jika selftalk tentu tidak akan ditulis dan disebar 🙂
-tulisan ini pengalaman pribadi hidup di ruang organisasi lintas watak 🙂

Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s