Sastra Jiwa

Ulama Salaf dan Sholat Malamnya

Shalat malam adalah ciri khas orang-orang shaleh, perniagaan orang-orang yang beriman, dan amalan orang-orang yang sukses. Seorang mukmin menyendiri bersama Rabb mereka di tengah keheningan malam. Mereka menghadapkan diri mereka kepada Sang Maha Pencipta. Mereka mengadukan keadaan mereka, meminta dan memohon keutamaan darinya.

Para Salaf di Bulan Ramadhan

Banyak kisah yang menakjubkan tentang kesungguhan para salaf dalam shalat malam. Hasan al-Bashri berkata, “Aku tidak menemukan satu ibadah pun yang lebih hebat daripada shalat di penghujung malam”.

Abu Utsman an-Nahdiy berkata, “Aku bertamu di rumah Abu Hurairah selama tujuh hari. beliau, istrinya, dan pembantunya membagi malam menjadi tiga bagian. Salah seorang dari mereka shalat, kemudian membangunkan yang lainnya”. (Dua atsar di atas diriwayatkan oleh Bukhari dan Ahmad).

Syaddad bin Aus apabila hendak berbaring di kasurnya, ia berkata, “Ya Allah, sungguh neraka itu membuatku tidak bisa tidur”. Beliau pun kemudian mengerjakan shalat (Shifatu Shafwah, 1: 709).

Saib bin Yazid mengatakan, “Umar bin al-Khaththahab memerintahkan Ubay bin Ka’b dan Tamim Ad Dariy qiyam (Ramadhan) untuk orang-orang dengan sebelas rakaat”. Saib berkata, “al-Qari (imam) membaca ratusan ayat, hingga kami bersandar di atas tongkat karena sangat lamanya berdiri. Dan kami tidak keluar melainkan di ambang fajar”. (Sunan al-Baihaqi al-Kubra, 2: 496).

Dari Malik, dari Abdullah bin Abi Bakar, ia berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Ketika kami selesai melaksanakan shalat malam Ramadhan, pembantu bersegera menghidangkan makanan karena khawatir datangnya waktu fajar” (Muwaththa Malik, 1: 116).

Nafi’ mengisahkan bahwa Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma di awal malam pada bulan Ramadhan beliau shalat di rumahnya. Apabila orang-orang telah pulang dari masjid beliau mengambil satu gayung air (berwudhu) kemudia keluar menuju Masjid Rasulullah. Setelah itu, beliau tidak keluar dari masjid melainkan setelah shalat subuh (Sunan al-Baihaqi al-Kubra, 2: 494).

Keadaan Para Salaf Bersama Qiyamul Lail Mereka

Ibnul Jauzi mengatakan, “Ketahuilah dalam permasalahan qiyamul lail para salaf terbagi menjadi tujuh tingkatan:

Pertama, mereka yang menghidupkan satu malam penuh. Sampai-sampai wudhu shalat subuh mereka adalah wudhu shalat isyanya (wudhu shalat isya tidak batal hingga subuh).

Kedua, mereka yang shalat setengah malam.

Ketiga, mereka yang shalat sepertiga malam saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا، وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ، كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

“Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud. Ia berpuasa di satu hari dan berbuka (tidak puasa) di hari lainnya. Dan shalat yang paling dicintai Allah adalah shalatnya Dawud. Ia tidur di setengah malam kemudian shalat di sepertiga malam. Setelah itu ia tidur lagi di sisa seperenamnya.” (HR. Bukhari, No: 3238 dan Muslim, No: 1159).

Keempat, mereka yang shalat di seperenam malam atau seperlima malam.

Kelima, mereka yang tidak menentukan waktu tertentu. Mereka shalat hingga datang rasa kantuk, kemudian mereka tidur. Saat kembali terjaga, mereka melaksanakan shalat kembali.

Keenam, sekelompok orang yang shalat malam dengan empat rakaat atau dua rakaat saja.

Ketujuh, sekelompok orang yang menghidupkan waktu antara maghrib dan isya malam dan beribadah di waktu sahur. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا خَيْرًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ، وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya di malam hari ada satu waktu yang jika seorang muslim bertepatan waktu itu dalam keadaan meminta kepada Allah kebaikan tentang perkara dunia maupun akhirat kecuali Allah akan berikan kepadanya. Hal itu terjadi pada setiap malam.” (HR. Muslim).

Tips Agar Dimudahkan Qiyamul Lail

Abu Hamid al-Ghazali menyebutkan tips agar seorang dimudahkan untuk qiyamul lail ada dua: sebab yang bersifat batin dan sebab yang bersifat zhahir. Sebab yang bersifat batin ada empat, yaitu: (1) Jangan banyak makan dan minum, karena akan menyebabkan datanganya kantuk dan berat untuk melaksanakan shalat, (2) Jangan menyapek-nyapekkan diri di siang hari dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, (3) Hendaknya tidak meninggalkan tidur siang, karena hal ini akan membantu untuk shalat di malam hari, dan (4) Jangan bermaksiat di siang hari, karena sebab dosa tersebut ia terhalang dari qiyamul lail.

Sebab-sebab batin juga ada empat: (1) Hati yang bersih dari dengki kepada seorang muslim dan jauh dari sifat mengutamakan dunia, (2) Perasan takut dan pendek angan-angan (terhadap fitnah dunia), (3) Mengetahui keutamaan qiyamul lail, dan (4) Rasa cinta dan kuatnya imana kepada Allah, diiringis keyakinan bahwa tidak satu huruf pun yang ia ucapkan melainkan dialog dan munajat kepada Allah (Ihya’ Ulumuddin, 1: 356).

Oleh Nurfitri Hadi
Artikel http://www.KisahMuslim.com

Advertisements
Sastra Jiwa

Fight Back: Palestina Mendikte Yahudi

Sambutan Usamah Hamdan, kepala bidang luar negeri Hamas, dalam acara buka bersama di Beirut, Lebanon:

1.       Semua roket yang sudah dilesatkan ke Zionis Israel, dalam hitungan jam, kita buat lagi yang baru. Kami punya kesiapan untuk perang yang lama, berbulan-bulan bahkan. Kami juga punya kejutan-kejutan yang lain.

2.       Ide kami tentang perang yang akan datang adalah bukan pada soal membuat roket yang lebih dahsyat dari yang sekarang. Akan tetapi, kami berpikir bagaimana cara memulai membebaskan tanah yang dijajah lalu kami gabungkan ke wilayah-wilayah yang sudah dibebaskan, kemudian kami yang akan menyerang (zionis Israel).

3.       Mediasi Mesir dibuat dengan konsep generasi Arab yang dulu tak berdaya menghadapi Israel. Kini, konsep itu tidak relevan bagi generasi yang rindu pada kemerdekaan dan menolak kehinaan.

4.       Seluruh dunia mulai ikut campur tangan untuk menyelamatkan Israel dan untuk menghentikan perang. Kami ingin katakan kepada dunia: “Kami tidak akan berhenti (dari perang) selain dengan syarat-syarat yang kami buat. Kamilah yang sekarang menentukan syarat-syarat itu. Maka pihak musuh (zionis Israel) harus siap menanggung serangan balik dari kami…”

5.       Generasi kami (anak-anak muda) di Gaza adalah generasi yang haus (mengorbankan demi) kemerdekaan. Hasil tes ujian sekolah menengah atas, menunjukkan bahwa para juara kelas adalah para syahid. Mereka mendengar pengumuman kelulusan di saat mereka di medan pertempuran.

6.       Secara pribadi, ketika zionis Israel menyerang Lebanon, saya bermimpi suatu saat nanti kami bisa membalas serangan itu dan mengancam kota-kota Israel. Dan hari ini, mimpi saya itu terwujud bersama Izzudin Al-Qassam.

7.       Ada seorang pemuda bertanya kepada Usamah Hamdan,”Berapa harga satu roket?” Sambil tersenyum, Hamdan menjawab;”Lebih murah dibandingkan dengan harga roket yang dibeli oleh negara-negara Arab dari Amerika. Namun, roket al-Qassam lebih bernyali di lapangan…”

8.       Saat Israel mengumumkan gencatan senjata, reaksi kami adalah melepaskan 47 roket menghantam kota di bagian barat Jerusalem, Elat dan Tel Aviv. Hari ini, kami lah yang mengendalikan pertempuran dan menentukan syarat-syarat itu.

9.       Kami sebagai bangsa yang tertindas dan dengan keterbatasan yang kami miliki, mampu membuat pesawat yang sangat sederhana. Tentu, negara-negara Arab, dengan dana besar yang mereka miliki, sangat mampu membuat pesawat yang lebih canggih dari kami. Tunggu kejutan-kejutan dari kami selanjutnya.

10.    Menjawab pertanyaan, apakah roket-roket itu buatan atau kiriman dari Iran, Hamdan menjawab dengan mengatakan; “Itu asli buatan Gaza, seratus persen. Kami tidak menggunakan satupun roket buatan luar negeri, selain roket jenis Grad asal Libia.

11.    Seorang Yahudi tentu tidak akan bertahan hidup selama 2 jam di bunker-bunker bawah tanah, sementara rakyat Gaza sudah biasa hidup dengan suara-suara mesiu dan meriam…… Allah Akbar!   

sumber: http://bit.ly/1tNWWZj

Sastra Jiwa

BANGSA INI DIBANGUN OLEH BAPAK-BAPAK BANGSA YANG TIDAK PENDENDAM

BANGSA INI DIBANGUN OLEH BAPAK-BAPAK BANGSA YANG TIDAK PENDENDAM

By : Irfan Amalee

Perhatikan komentar Buya Hamka atas pemenjaraan dirinya oleh Bung Karno,

“Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Meskipun secara politik bersebrangan, Soekarno tetap menghormati keulamaan Hamka.

Menjelang wafatnya, Soekarno berpesan, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku…”

Meskipun banyak yang tak setuju, Buya Hamka dengan ikhlas memenuhi wasiat Soekarno memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu. 

Bangsa ini dibangun oleh para negarawan yang tegas tapi santun …

Karena kritiknya yang tegas pada orde baru, Mohammad Natsir bersama kelompok petisi 50 dicekal.

Natsir dilarang untuk melakukan kunjungan luar negeri seperti mengikuti Konferensi Rabithah Alam Islamy.

Bahkan Natsir tidak mendapat izin untuk ke Malaysia menerima gelar doktor kehormatan dari Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Sains Pulau Pinang. 

Di balik kritik yang ia lancarkan, ia tetap bersikap santun.

Misalnya pada beberapa kali perayaan Idul Fitri, ia selalu saja hadir dalam acara silaturahmi di kediaman Soeharto di Cendana, meskipun keberadaannya seringkali tidak ditanggapi oleh Soeharto saat itu. 

Bahkan bukan hanya bersikap santun, ia secara sadar juga turut membantu pemerintahan Orde Baru untuk kepentingan pemerintah sendiri.

Misalnya ia membantu mengontak pemerintah Kuwait agar dapat menanam modal di Indonesia dan meyakinkan pemerintah Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi.

Bangsa ini berdiri karena para founding fathers yang toleran dan penuh empati …

Prawoto Mangkusasmito, Ketua Umum Masyumi setelah Mohammad Natsir, hidup sangat sderhana bahkan tak punya rumah.

Ketua Umum Partai Kristen Indonesia, IJ Kasimo berinisiatif menginisiasi urunan untuk membelikan rumah untuk Prawoto. 

Bangsa ini besar karena kesederhanaan pemimpinnya …

Bung Hatta pernah punya mimpi untuk membeli sepatu Bally. Dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya.

Ia kemudian menabung, mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, apa yang terjadi?

Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Uang tabungannya terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya.

Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik. 

Bangsa ini kokoh karena pemimpinnya menjunjung fairness …

Ketika hubungan Soekarno dan Hatta merenggang, beberapa orang yang pro Soekarno tidak mencantumkan nama Hatta pada teks proklamasi.

Soekarno dengan marah menegur, “Orang boleh benci pada seseorang! Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hatta!! Tapi menghilangkan Hatta dari teks proooklaamaasii, itu perbuatan pengecut!!!”. 

Hari ini kita menentukan apakah bangsa ini jadi pemenang atau pengecut.

Jadi besar atau kerdil.

Jadi pemaaf atau pendendam.

Jadi penuh empati atau suka menghakimi.

Jadi penyebar damai atau penebar fitnah.

Yang akan menentukan masa depan bangsa ini bukan hanya siapa yang terpilih, tapi juga bagaimana sikap pendukungnya.

Bukan hanya siapa yang menang, tapi bagaimana sikap yang kalah.

Semoga Allah menyelamatkan bangsa ini … Amiiin

Sastra Jiwa

Nasihat kepemimpinan yg indah dari Salim A. Fillah

Nasihat kepemimpinan yg indah dari Salim A. Fillah.. (sorry if it’s too long, just want to share what inspire me)
Pak Prabowo, Kami Memilih Anda, Tapi..
oleh Salim A. Fillah dalam Rajutan Makna.
———

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi sungguh orang yang jauh lebih mulia daripada kita semua, Abu Bakr Ash Shiddiq, pernah mengatakan, “Saya telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Dan kalau anda sekalian melihat saya salah, maka luruskanlah.”

Maka yang kami harapkan pertama kali dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah kesadaran bahwa Anda bukan pahlawan tunggal dalam masa depan negeri ini. Barangkali memang pendukung Anda ada yang menganggap Andalah orang terbaik. Tetapi sebagian yang lain hanya menganggap Anda adalah sosok yang sedang tepat untuk saat ini. Sebagian yang lainnya lagi menganggap Anda adalah “yang lebih ringan di antara dua madharat”.

Tentu saja, mereka yang tidak memiliih Anda menganggap Anda bukan yang terbaik, tidak tepat, dan juga berbahaya.

Dan jika Anda, Pak Prabowo, nantinya terpilih menjadi Presiden, maka mereka semua akan menjadi rakyat yang dibebankan kepada pundak Anda tanggungjawabnya di hadapan Allah. Maka kami berbahagia ketika Anda berulang kali berkata di berbagai kesempatan, “Jangan mau dipecah belah. Jangan mau saling membenci. Kalau orang lain menghina kita, kita serahkan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Maha Besar.”

Dan Anda juga harus menyadari bahwa barangsiapa merasa jumawa dengan kekuasaan, maka beban kepemimpinan itu akan Allah pikulkan sepelik-peliknya di dunia, dan tanggungjawabnya akan Dia jadikan penyesalan serta siksa di akhirat. Adapun pemimpin yang takut kepada Allah, maka Dia jadikan manusia taat kepadanya, dan Dia menolong pemimpin itu dalam mengemban amanahnya.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi sungguh orang yang jauh lebih perkasa daripada kita semua, ‘Umar ibn Al Khaththab, pernah mengatakan, “Seandainya tidaklah didorong oleh harapan bahwa saya akan menjadi orang yang terbaik di antara kalian dalam memimpin kalian, orang yang terkuat bagi kalian dalam melayani keperluan-keperluan kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian, tidaklah saya sudi menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan.”

Maka yang kami harapkan berikutnya dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah cita-cita yang menyala untuk menjadi pelayan bagi rakyat Indonesia.  Sebuah tekad besar, yang memang selama ini sudah kami lihat dari kata-kata Anda. Dan sungguh, kami berharap, ia diikuti kegentaran dalam hati, seperti ‘Umar, tentang beratnya tanggungjawab kelak ketika seperempat milyar manusia Indonesia ini berdiri di hadapan pengadilan Allah untuk menjadi penggugat dan Anda adalah terdakwa tunggal bila tidak amanah, sedangkan entah ada atau tidak yang sudi jadi pembela.

Pak Prabowo, jangankan yang tak mendukung Anda, di antara pemilih Andapun ada yang masih meragukan Anda karena catatan masa lalu. Saya hendak membesarkan hati Anda, bahwa ‘Umar pun pernah diragukan oleh para tokoh sahabat ketika dinominasikan oleh Abu Bakr sebab dia dianggap keras, kasar, dan menakutkan. Tapi Anda bukan ‘Umar. Usaha Anda untuk meyakinkan kami bahwa kelak ketika terpilih akan berlaku penuh kasih kepada yang Anda pimpin harus lebih keras daripada ‘Umar.

Pak Prabowo, kami memilih Anda karena kami tahu, seseorang tak selalu bisa dinilai dari rekam jejaknya. ‘Umar yang dahulu ingin membunuh Nabi, kini berbaring mesra di sampingnya. Khalid yang dahulu panglima kebatilan, belakangan dijuluki ‘Pedang Allah’. Tapi Anda bukan ‘Umar. Tapi Anda bukan Khalid. Usaha Anda untuk berubah terus menjadi insan yang lebih baik daripada masa lalu Anda akan terus kami tuntut dan nantikan. Ya, maaf dan dukungan justru dari orang-orang yang diisukan pernah Anda ‘culik’ menjadi modal awal kepercayaan kami kepada Anda.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang jauh lebih dermawan dari kita, ‘Utsman ibn ‘Affan, pernah mengatakan, “Ketahuilah bahwa kalian berhak menuntut aku mengenai tiga hal, selain kitab Allah dan Sunnah Nabi; yaitu agar aku mengikuti apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin sebelumku dalam hal-hal yang telah kalian sepakati sebagai kebaikan, membuat kebiasaan baru yang lebih baik lagi layak bagi ahli kebajikan, dan mencegah diriku bertindak atas kalian, kecuali dalam hal-hal yang kalian sendiri menyebabkannya.”

Ummat Islam amat besar pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pun demikian, sejarah juga menyaksikan mereka banyak mengalah dalam soal-soal asasi kenegaraan Indonesia. Cita-cita untuk mengamalkan agama dalam hidup berbangsa rasanya masih jauh dari terwujud.

Tetapi para bapak bangsa, telah menitipkan amanah Maqashid Asy Syari’ah (tujuan diturunkannya syari’at) yang paling pokok untuk menjadi dasar negara ini. Lima hal itu; pertama adalah Hifzhud Diin (Menjaga Agama) yang disederhanakan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua Hifzhun Nafs (Menjaga Jiwa) yang diejawantahkan dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Ketiga Hifzhun Nasl (Menjaga Kelangsungan) yang diringkas dalam sila Persatuan Indonesia. Keempat Hifzhul ‘Aql(Menjaga Akal) yang diwujudkan dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Dan kelima, Hifzhul Maal(Menjaga Kekayaan) yang diterjemahkan dalam sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami berharap Anda akan melaksanakan setidak-tidaknya kelima hal tersebut; menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga kelangsungan, menjaga akal, dan menjaga kekayaan; dengan segala perwujudannya dalam kemaslahatan bagi rakyat Indonesia. Kami memilih Anda ketika di seberang sana, ada wacana semisal menghapus kolom agama di KTP, melarang perda syari’ah, mengesahkan perkawinan sejenis, mencabut tata izin pendirian rumah ibadah, pengalaman masa lalu penjualan asset-aset bangsa, lisan-lisan yang belepotan pelecehan kepada agama Allah, hingga purna-prajurit yang tangannya berlumuran darah ummat.

Pak Prabowo, seperti ‘Utsman, jadilah pemimpin pelaksana ungkapan yang amat dikenal di kalangan Nahdlatul ‘Ulama, “Al Muhafazhatu ‘Alal Qadimish Shalih, wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah.. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih zuhud daripada kita semua, ‘Ali ibn Abi Thalib, pernah mengatakan, “Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya dia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang mengajari orang lain.”

Pak Prabowo, hal yang paling hilang dari bangsa ini selama beberapa dasawarsa yang kita lalui adalah keteladanan para pemimpin. Kami semua rindu pada perilaku-perilaku luhur terpuji yang mengiringi tingginya kedudukan. Kami tahu setiap manusia punya keterbatasan, pun juga Anda Pak. Tapi percayalah, satu tindakan adil seorang pemimpin bisa member rasa aman pada berjuta hati, satu ucapan jujur seorang pemimpin bisa member ketenangan pada berjuta jiwa, satu gaya hidup sederhana seorang pemimpin bisa menggerakkan berjuta manusia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami tahu, kendali sebuah bangsa takkan dapat dihela oleh satu sosok saja. Maka kami menyeksamai sesiapa yang ada bersama Anda. Lihatlah betapa banyak ‘Ulama yang tegak mendukung dan tunduk mendoakan Anda. Balaslah dengan penghormatan pada ilmu dan nasehat mereka. Lihatlah betapa banyak kaum cendikia yang berdiri memilih Anda, tanpa bayaran teguh membela. Lihatlah kaum muda, bahkan para mahasiswa.

Didiklah diri Anda, belajarlah dari mereka; hingga Anda kelak menjelma apa yang disampaikan Nabi, “Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian mencintainya dan dia mencintai kalian. Yang kalian doakan dan dia mendoakan kalian.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih adil daripada kita semua, ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, pernah mengatakan, “Saudara-saudara, barangsiapa menyertai kami maka silahkan menyertai kami dengan lima syarat, jika tidak maka silahkan meninggalkan kami; yakni, menyampaikan kepada kami keperluan orang-orang yang tidak dapat menyampaikannya, membantu kami atas kebaikan dengan upayanya, menunjuki kami dari kebaikan kepada apa yang kami tidak dapat menuju kepadanya, dan jangan menggunjingkan rakyat di hadapan kami, serta jangan membuat-buat hal yang tidak berguna.”

Sungguh karena pidato pertamanya ini para penyair pemuja dan pejabat penjilat menghilang dari sisi ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, lalu tinggallah bersamanya para ‘ulama, cendikia, dan para zuhud. Bersama merekalah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz mewujudkan pemerintahan yang keadilannya dirasakan di segala penjuru, sampai serigalapun enggal memangsa domba. Pak Prabowo, sekali lagi, kami memilih Anda bukan semata karena diri pribadi Anda. Maka pilihlah untuk membantu urusan Anda nanti, orang-orang yang akan meringankan hisab Anda di akhirat.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi kalaupun Anda tidak terpilih, kami yakin, pengabdian tak memerlukan jabatan. Tetaplah bekerja untuk Indonesia dengan segala yang Anda bisa, sejauh yang Anda mampu.

Sungguh Anda terpilih ataupun tidak, kami sama was-wasnya. Bahkan mungkin, rasa-rasanya, lebih was-was jika Anda terpilih. Kami tidak tahu hal yang gaib. Kami tidak tahu yang disembunyikan oleh hati. Kami tidak tahu masa depan. Kami hanya memilih Anda berdasarkan pandangan lahiriyah yang sering tertipu, disertai istikharah kami yang sepertinya kurang bermutu.

Mungkin jika Anda terpilih nanti, urusan kami tak selesai sampai di situ. Bahkan kami juga akan makin sibuk. Sibuk mendoakan Anda. Sibuk mengingatkan Anda tentang janji Anda. Sibuk memberi masukan demi kemaslahatan. Sibuk meluruskan Anda jika bengkok. Sibuk menuntut Anda jika berkelit.

Inilah kami. Kami memilih Anda Pak Prabowo, tapi..

Tapi sebagai penutup tulisan ini, mari mengenang ketika Khalifah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz meminta nasehat kepada Imam Hasan Al Bashri terkait amanah yang baru diembannya. Maka Sang Imam menulis sebuah surat ringkas. Pesan yang disampaikannya, ingin juga kami sampaikan pada Anda, Pak Prabowo. Bunyi nasehat itu adalah, “Amma bakdu. Durhakailah hawa nafsumu! Wassalam.”

doa kami,

hamba Allah yang tertawan dosanya, warga negara Republik Indonesia

Sastra Jiwa

Selamat dari bencana karena keramahannya

👆
Juan bekerja di sebuah pabrik pendistribusian daging.

Suatu hari, ia pergi ke ruangan pendingin daging untuk memeriksa sesuatu.

Sayang, nasib buruk menimpanya, pintu ruangan itu menutup, & ia pun terkunci di dalamnya tanpa seorangpun yg melihatnya.

Karena ruangan pendingin daging itu kedap udara dan kedap suara, maka yang di luar tidak mungkin mendengar teriakan dari dalam ruangan itu.

Lima jam kemudian, saat Juan berada di ambang kematian karena kedinginan, penjaga keamanan pabrik membuka pintu dan menyelamatkan nyawanya.

Juan meminta penjaga keamanan itu menceritakan padanya bagaimana ia bisa membukakan pintu ruangan pendingin daging itu, krn pekerjaan itu bukan bagian dari rutinitas pekerjaannya.

Penjaga keamanan itu menjelaskan begini, :

“Ratusan pekerja datang & keluar setiap hari, tapi Anda adalah salah satu dari sedikit yang selalu menyapa saya di pagi hari dan mengatakan selamat tinggal kepada saya setiap malam ketika meninggalkan tempat ini setelah jam kerja usai.

Banyak yg memperlakukan saya se-olah2 saya tak terlihat.

Hari ini, seperti biasanya, Anda menyapa saya saat masuk kerja. Tapi setelah jam kerja berakhir, saya belum mendengar Anda mengucapkan kata ‘selamat tinggal sampai ketemu besok’.

Oleh karena itu saya memutuskan untuk memeriksa di sekitar pabrik.Saya masih berharap mendengar kata ‘Hai’ dan ‘Bye’ dari Anda setiap hari.

Karena tidak mendengar kata ‘selamat tinggal’ dari Anda, saya tahu sesuatu telah terjadi. Lalu, saya berusaha mencari dan menemukan Anda!”.

A simple hello could lead to million things….

Jangan suka membeda2 kan manusia, walau apapun status sosialnya. Jadi manusia yg suka menolong TIDAK merugikan, krn suatu hari kita jg bakal perlu org lain.

Sastra Jiwa

Kalimat indah dari Dr. Aid Al Qarni

عبارة جمیلة للدكتور عائض القرني ـَـَََـَ
Kalimat indah dari Dr. Aid Al Qarni

نحن لا نملك تغییر الماضي

Kita tdk bisa merubah yg telah terjadi

و لا رسم المستقبل ..

Jg tdk bisa menggariskan masa depan

فلماذا نقتل انفسنا حسرة

Lalu mengapa kita bunuh diri kita dgn penyesalan?

على شيئ لا نستطیع تغییره؟

Atas apa yg sdh tdk bisa kita rubah

الحیاه قصیرة وأهدافها كثيرة

Hidup itu singkat sementara targetnya banyak

فانظر الى السحاب
و لا تنظر الى التراب ..

Maka, tataplah awan dan jgn lihat ke tanah

اذا ضاقت بك الدروب
فعلیك بعلام الغیوب
و قل الحمدلله على كل شيئ

Kalau merasa jalan sdh sempit, kembalilah ke Allah yg Maha Mengetahui yg gaib!
Dan ucapkan alhamdulillah atas apa saja.

سفينة (تايتنك) بناها مئات الاشخاص

Kapal titanic dibuat oleh ratusan orang

وسفينة ( نوح ) بناها شخص واحد

Sedang kapal nabi Nuh dibuat hanya oleh satu orang

الأولى غرقت والثانية حملت البشرية

Tetapi, Titanic tenggelam. Sedang kapal Nabi Nuh menyelamatkan umat manusia

التوفيق من الله سبحانه وتعالى

Taufik hanya dari Allah swt

نحن لسنا السكان الأصليين
لهذا الكوكب الأرض !!
بل نحن ننتمي إلى ( الجنّة )

Kita bukanlah penduduk asli bumi, asal kita adalah surga

حيث كان أبونا أدم
يسكن في البداية
لكننا نزلنا هنا مؤقتاً
لكي نؤدّي اختبارا قصيرا
ثم نرجع بسرعة ..

Tempat, dimana org tua kita, Adam, tinggal pertama kali.
Kita tinggal di sini hanya untuk sementara,
Untuk mengikuti ujian lalu segera kembali.

فحاول أن تعمل ما بوسعك
لتلحق بقافلة الصالحين
التي ستعود إلى وطننا الجميل الواسع
و لا تضيع وقتك في هذا الكوكب الصغير

Maka berusahalah semampumu,
Untuk mengejar kafilah org2 salih, Yang akan kembali ke tanah air yg sgt luas
Jgn sia2kan waktumu di planet kecil ini..!

الفراق: ليَس السفِر، ولا فراق الحب، حتىّ الموت ليس فراقاْ
سنجتمَع في الآخره
الفراق هو: أن يكون أحدنا في الجنه،
والآخر في النار

جعلني ربي واياكمَ من سكان جنته..

Perpisahan itu bukanlah karena perjalanan yg jauh,
Atau karena ditinggal orang tercinta,
Bahkan, kematian pun bukanlah perpisahan, sebab kita pasti akan bertemu di akhirat.
Perpisahan itu adalah,
Jika salah satu diantara kita di surga dan yg lain di neraka.

Semoga Allah swt menjadikan kita semua sebagai penghuni surga!

والحياه ما هي إلا قصة قصيرة !!
( من تراب . تراب . إلى تراب )
( ثم حساب . فثواب . أو عقاب )

Hidup ini adalah cerita pendek, dari tanah, di atas tanah, dan kembali ke tanah,
Lalu hisab (yg hanya menghasilkan dua kemungkinan); pahala atau siksa.

فعش حياتك لله – تكن أسعد خلق ﷲ
اللهم لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك

Maka, Hiduplah utk Allah niscaya kau akan jadi makhluk-Nya yg paling bahagia.

Ya Rabb utkmu segala puji yg layak utk kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kekuasan-Mu!