Sastra Jiwa

Dari Kejadian Tersebut Kita Paham…

Dari kejadian tersebut kita mengetahui, Bahwa Iman tak dapat Diwarisi…

Dari Kejadian Tersebut kita paham Maksud Nabi ﷺ , ada sebagian kalian yang paginya IMAN sorenya KAFIR, Sorenya IMAN paginya KAFIR…

Dari Kejadian tersebut kita paham makna Do’a: “Ya Allah Yang maha membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami dalam agama Ini…

Dari kejadian tersebut kita paham maksud Ulama: Jika Iblis Gagal Menggoda Bani Adam, maka Ia akan datang dari lawan Jenis…

Dari kejadian tersebut kita paham….

@jeehadielbanna
Timur Jakarta

Sastra Jiwa

KISAH KESETIAAN ANTARA SUAMI DAN ISTRI

IMG_5166.JPG

Hiduplah seorang laki2 yg sangat miskin bersama istrinya.

Suatu sore, sang istri meminta dibelikan sisir untuk rambutnya
yg panjang agar terlihat anggun.

Sang suami memandangnya dengan sedih, dan berkata: “Aku belum bisa memenuhi permintaanmu. Bahkan untuk jam tanganku saja aku belum bisa membeli talinya”.

Istrinya tidak membantah, bahkan tampak senyum diwajahnya.

Keesokan harinya, setelah selesai dari pekerjaannya, sang suami pergi ke pasar dan menjual jam tangannya, yang tanpa tali itu dengan harga murah. Kemudian membeli sisir permintaan istrinya.

Ketika sampai di rumah sore hari sambil membawa sisir yang
dibelinya itu, ia melihat rambut istrinya sudah sangat pendek sekali,
Dan dilihat tangan istrinya memegang tali jam tangan
(rupanya sang istri memotong rambutnya dan menjualnya untuk membeli tali jam tangan).

Lalu keduanya saling memandang dengan air mata yg bercucuran.
Bukan karena apa yg mereka lakukan sia-sia!! Tapi karena keduanya merasa saling mencintai. Keduanya sama-sama ingin memenuhi apa yg diinginkan satu sama lain.

Subhanallah…
__

Ingatlah selalu..
Bahwa mencintai atau dicintai seseorang itu harus berusaha
membahagiakannya dengan banyak cara,
Bahkan jika hal itu berharga mahal..
Karena cinta sejati bukanlah pada kata-kata, tapi pada perbuatan.

Semoga kita selalu taat dan setia terhadap suami/istri (yang sudah berkeluarga). Dan yg belum berkeluarga, Semoga Allah memberikan jodoh yg terbaik buat sahabat semua.

Aamiin ya robbal’alamiin.

Repost : Aqiqah Jabotabek
http://www.aqiqahjabotabek.com
Follow @Aqiqahjabotabek

Sastra Jiwa

*MENGHORMATI YANG TIDAK BERPUASA?

IMG_6723.JPG

Oleh:Tere Liye

12 tahun silam, saat saya baru lulus kuliah, saya sudah menemukan konsep baru yang sangat membingungkan ini:

Orang2 berpuasa diminta menghormati orang2 yang tidak berpuasa. Maka, saat Ramadhan datang, apa salahnya jika tempat2 hiburan tetap buka, rumah makan tetap beroperasi penuh, dsbgnya.

Apa salahnya jika klub malam tetap beroperasi. Toh, mereka juga mencari makan, nafkah dari bisnis mereka.

Saya membaca tulisan itu di milist (jaman itu belum ada media sosial).

Saya masih muda, masih tidak berpengalaman. Saat membaca tulisan tersebut, aduhai, isinya masuk akal sekali.

Benar loh, kan kita berpuasa itu disuruh menahan diri, agar jadi lebih baik, masa’ kita akan tergoda saat melihat warung buka, masa’ kita akan tergoda saat melihat tempat hiburan ada di mana2? Full beroperasi.

Kalau masih, berarti puasa kita nggak oke. Itu logika yang masuk akal sekali.

Tapi saya bersyukur, saya tidak pernah membiarkan “logika” sendirian saat menentukan prinsip2 yang akan saya gigit.

Saya selalu memberikan kesempatan mendengarkan pendapat lain.

Baik. Itu mungkin masuk akal, orang2 berpuasa disuruh menghormati orang2 tidak berpuasa, tapi di mana poinnya?

Apakah orang2 yang berpuasa mengganggu kemaslahatan hidup orang2 tidak berpuasa?

Apakah orang2 berpuasa ini punya potensi merusak?

Sehingga harus ada tulisan, himbauan, pernyataan: kalian yang puasa, hormatilah orang yang tidak berpuasa.

No way, man, itu logika yang bablas sekali. Saya tahu, ada banyak razia penuh kekerasan dilakukan kelompok tertentu atas tempat2 hiburan, warung2, dll.

Tapi itu bukan cerminan kelompok besar muslim di negeri ini. Kelompok besarnya, bahkan tidak suka dengan cara2 penuh kekerasan ini, pun tidak suka dengan kelompok ini.

Lantas siapa yang seharusnya menghormati?

Default dalam situasi ini adalah: ingatlah baik2, ramadhan itu sudah ribuan tahun usianya, 1.434 tahun tepatnya.

Bahkan perintah shaum, itu hampir seusia manusia di bumi ini, agama2 terdahulu juga memilikinya.

Kalau itu sebuah tradisi, maka dia lebih tua dibanding tradisi apapun yang kalian kenal, silahkan sebut tradisinya, puasa lebih tua.

Maka, tidak pantas, manusia yang usianya paling rata2 hanya 60 tahun, tiba2 mengkritisi puasa, memandangnya sebagai sesuatu yang artifisial, tidak penting, dsbgnya.

Ramadhan adalah bulan paling penting dalam agama Islam, jelas sekali posisinya.

Sama dengan sebuah komplek, itu komplek sudah 1.434 tahun punya tradisi tidak boleh memelihara hewan peliharaan.

Kemudian datanglah keluarga baru, membawa hewan yang berisik sekali setiap malam.

Siapa yang disuruh menghormati?

Wow, warga satu komplek yang disuruh menghormati keluarga dengan hewan berisik?

Demi alasan egaliter, HAM, kesetaraan, kebebasan, dan omong kosong lainnya.

Kalian tahu, ketika orang2 tidak punya argumen substantif dalam hidup ini, maka senjata mereka memang hanya itu: kebebasan.

Amunisi paling mudah saat melawan agama adalah: kebebasan. Hingga lupa, siapa sih yang over sekali menyikapi situasi ini?

Karena sejatinya, tidak ada pula yang menyuruh warung2 full tutup, warung2 makan cukup diberikan tirai saat bulan Ramadhan, semua baik2 saja.

Itu lebih dari cukup.
Lantas soal klub malam? Diskotik? Tempat2 menjual minuman keras?

Kalian punya 11 bulan untuk melakukannya, diminta libur sebulan, apa susahnya?

11 bulan orang lain menghormati kalian melakukannya, maka tiba giliran 1 bulan, apa susahnya mengalah?

Tidak perlu sampai ribut, sampai berantem, sampai dirazia, cukup kesadaran diri saja. Tidak ada yang meminta kalian tutup 12 bulan.

Kusutnya masalah ini, kadang yang mengotot sekali justeru sebenarnya beragama Islam.

Orang2 yang beragama lain, sudah otomatis menyesuaikan diri.

Saya punya banyak teman2 non Islam, saat mereka makan siang, mereka dengan sangat respek minta ijin, bisa menempatkan diri dengan baik.

Hampir semua agama itu punya ibadah yang harus dihormati. Di Bali misalnya, saat Nyepi, mau agama apapun, semua orang diminta menghormati Nyepi.

Tidak ada alasan: kebebasan, boleh dong saya hura2 saat Nyepi.

Saya tahu, silahkan saja jika kalian tetap punya tapi, tapi dan tapi. Saya hanya mengingatkan: sekali orang2 mulai terbiasa membalik2 logika, dalam urusan ini, hanya soal waktu, besok lusa akan ada yang bilang: adzan di masjid itu mengganggu.

Kemudian orang2 akan mengangguk, mengamini, benar juga ya, kenapa harus teriak2 sih adzannya?

Kenapa harus pakai speaker?
Kan bisa pakai SMS, miskol, dll. Itu pemeluk agama Islam kok bego banget, tidak tahu teknologi.
Saat itu terjadi, maka silahkan tanggung dosanya, wahai kalian, orang2 yang bangga sekali dengan logika hidupnya.

Bangga sekali dengan kepintarannya berdebat, kalian –mungkin tanpa menyadarinya– telah memulai menggelindingkan bola salju agar orang2 lain mulai meninggalkan agamanya.

Terakhir, ada jutaan anak2 kami yang baru belajar puasa Ramadhan ini, saat mereka pulang sekolah TK, SD, saat mereka habis2an menahan haus dan lapar, maka jika kalian yang keblinger sekali pintarnya tidak bisa melihat mozaik besar Ramadhan, maka lihatlah anak2 ini, mereka sedang berusaha taat melaksanakan perintah agama–bahkan saat mereka belum tahu-menahu.

Hormatilah anak2 kami ini.
Jangan suruh mereka menghormati orang2 yang tidak berpuasa.

*Tere Liye

Sastra Jiwa

Rindu Romadhon: sebuah kepura-puraan abad modern

Tak ada yang lebih Romantis dibanding sang perindu yang merindu dengan diam-diam….

Tak ada yang lebih Jujur dibanding Sang Perindu yang mendekap erat ketika sang Terindu tiba…

Wahai Tuan, Bukan Rindu namanya kalau kau tak banyak waktu untuk kau habiskan dengan sang Terindu ketika Ia datang…

Wahai Tuan, Bukan Rindu namanya kalau kau dingin melepas kepergian sang Terindu…

Jika Ia datang kau mau apa?
Apa benar kau Rindu?
Atau hanya euforia?

Jika benar Rindu, akan kau apakan Ia saat kedatangannya?
Jika benar Rindu, berapa juta detik akan kau alokasikan dengannya?

Merindulah dan Tunaikan dengan jujur Rindumu..

Penghujung Sya’ban
@jeehadielbanna

Selatan Jakarta

Sastra Jiwa

Sajak Orang Tertindas

IMG_6763.JPG

Wahai Tuan, asal kau Tahu, Nabi Kami tidak pernah mengajarkan kami berandai-andai yang melemahkan Jiwa…

Kami juga Paham Hukum Perubahan: Bahwa penindasan hanya Terjadi karena kalian mau ditindas…

Kami akan Rebut dan akan kami berikan sesuatu hal yang kalian tak pernah bayangkan sebelumnya…

Kau bebas memilih!!!

Penghujung Sya’ban
@jeehadielbanna
Selatan Jakarta

Sastra Jiwa

Balada Negeri Kusam

Bola itu terlempar jauh setelah beradu dengan tongkat pemukul. Ku ikuti arahnya menuju kebun pinggir sungai…

“Ahh Itu dia”
kataku cepat, berbinar mata menemukan bola kasti yang kukejar.

Bola hijau kecoklatan itu tepat berada di kaki kakek tua yang terpaku pada dipan kecil di bawah pohon melinjo.

“BIADAB..”
Teriak kakek itu, yang membuatku kaget sampai melompat.

“Prostitusi kau fasilitasi,
Khomar kau Bantu Syiar,
Poligami kau kuliti,
Zina kau saluti,
Ulama kau curigai,
Pencuri kau Puji,
Berprinsip kau tuduh Teroris,
Pendosa kau anggap artis”

“Benar-benar Negeri Bangkai” teriak sang kakek.

Aku tertegun menyaksikan kakek Kusam sedang menggunjing negeri sekarat yang kelak jadi Bangkai.

Kuambil langkah seribu lalu kembali kepada kawanku, lalu kukatakan

“Bola itu telah Kusam dan Usang tidak usah kita pakai lagi, biar aku beli yang baru”

@jeehadielbanna
Selatan Jakarta

Sastra Jiwa

Balada Orang-orang Kalah

Aku terjerembab pada semak belukar yang entah dimana..
Kabut itu terlalu tebal, kawananku entah kemana? Apa ini saatnya menyerah?

Ahhh batinku..
Mengapa silau muntahan amunisi musuh kian menyemut di mataku?
Apa ini saatnya menyerah?

Belantara ini terlalu gelap, nafas mulai tak karuan.
Apakah ini saatnya untuk menyerah?

Kupaksa melangkah, sambil berharap kawanan yang lain menembus jantung pertahan musuh…

Ahh itu..
Aku kenal, suara mesin kawanku, silau amunisinya menghantam benteng lawan..
Sekejap hati ini bahagia, walau hanya mampu menikmati dari kejauahan..

Dalam belukar sesal mulai hadir, akan setiap waktu yang terbuang sebelum pertempuran..

Maafkan kami Tuhan, kami baru mulai berlatih di medan perang.

Dalam belukar ku bertahan dan menunggu takdir, keluar melawan pasca pertapaan atau terhunus senjata lawan dalam kesunyian…

@jeehadielbanna
Selatan Jakarta