Sastra Jiwa

Bara dari Kampung Pulo

IMG_7141.JPG

Ada warga Terusir di hari-hari Kemerdekaan..

Ada kesembongan yang menjulang dihari suka cita..
Ada kebohongan yang dikampanyekan dihari-hari suci..

Tidakkah terlintas dalam pikiranmu wahai Tuan, bahwa Rakyat yang marah akan datangkan sesuatu yang senantiasa kau takuti selama ini???

Semoga Tidurmu Nyenyak Tuan

@jeehadielbanna
Selatan Jakarta

Sastra Jiwa

Menjadi Hamba Robbani

IMG_7057.PNG

⭐️Taujih Ustadz Taufiq⭐️

Teladan Para Pendahulu dalam kesungguhan dan Kecepatan merespon Seruan Dakwah

Dalam kitab Shahihnya, Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Hajjaj bin Minhal dari Syu’bah dari Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As-Sulami dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Adalah Seorang tabiin bernama Abdurrahman As Sulami yang merespon hadits tersebut dengan menghabiskan seluruh usianya untuk mempelajari Qur’an dan Mengajarkannya..

Kemudian Allah tegaskan dalam Qs Ali Imran : 79

ولكن كونوا ربّنيىن بما كنتم تعلّمون الكتب وبما كنتم تدرسون

(Akan Tetapi) hendaknya kalian menjadi Orang-orang Rabbani yang mengajari Qur’an dan selalu mempelajarinya

Berkaca pada Kecepatan Abdurrahman As Sulami dalam merespon perintah Allah atau seruan Kebaikan dan dikaitkan dengan Kegiatan berdakwah dan mengajak kepada kebaikan mempelajari Qur’an maka ada beberapa sikap yang sehendaknya muncul dalam diri Setiap Mukmin yang gandrung kepada kebaikan dan mengajak kebaikan:

1⃣ sesungguhnya Yang kita lakukan dalam program Tarbiyah Islamiyah merupakan pelaksanaan dari Hadits Nabi ﷺ di atas dan perintah Allah Dalam Ali Imron ayat 79 tadi.

Yaitu orang-orang yang senantiasa mengajarkan Qur’an dan Orang tersebut tetap mempelajarinya.

Ketika kita memberikan nasihat dan menyampaikan isi kandungan qur’an sesungguhnya kita mengajarkan saudara kita Qur’an dan ketika kita hadir dalam kajian Islam dan Qur’an sesungguhnya kita sedang diajari isi Qur’an dan begitu seterunya.

Oleh karenanya, perintah Atau seruan Untuk lakukan aktivitas dakwah dan mengajak orang lain mengikuti kajian tidak bisa kita sambut dingin atau hambar mengingat sesungguhya perintah tersebut adalah Perintah yg berkesesuaian dengan perintah Allah dan Nabi ﷺ yaitu memperbanyak orang-orang yg belajar Qur’an dan senantiasa mempelajarinya.

2⃣ sebagai seorang Hamba yg terikat pada janji setia dalam kalimat syahadat yg sudah kita lakukan hendaknya kita mengingat kembali Hak dan Kewajiban sebagai Hamba Allah..

Hak Allah adalah memberikan perintah dan Hamba merespon segera dengan penuh tanggungjawab.

3⃣ teladan Dalam Suratul Istijabah (cepat dalam merespon seruan) sudah banyak kita ketahui melalui berbagai kisah.

Misalnya adalah ketika Allah perintahkan haramnya Khomr, maka para Sahabat Nabi ﷺ merespon dengan cepat dengan menumpahkan Khomar tsb ke jalan-jalan

Atau ketika para Shohabiyah merespon cepat perintah untuk berhijab.

Karenanya sekali lagi kami tegaskan, bahwa semangat untuk melaksanakan seruan dan ajakan memperbanyak orang-orang mengaji haruslah kita respon dengan segera mungkin agar diri kita mencapai derajat Hamba Yg Robbani seperti yg Allah sebutkan dalam Ali Imron 79 dan mencapai derajat sebaik-baiknya manusia seperti Yg Nabi ﷺ telah sebutkan tadi.

Semoga bermanfaat 🙏

Sastra Jiwa

Agar Allah Ampunkan kita setelah Romadhon

Taujih ustadz Musyafa Ahmad Rahim Lc, MA pada kegiatan Halal bi Halal di Azhari Islamic School Lebak Bulus

⏰ Rabu, 29 Juli 2015

📝 Dari Abu Hurairah Ra,

Rasulullah ﷺ naik ke atas mimbar, kemudian beliau berkata : “Amin..amin. .amin..”.

Kemudian ditanyakan (para sahabat), kepada beliau : “Wahai Rasulullah ﷺ , saat Engkau naik ke atas mimbar, Engkau sampai mengatakan Amin (3x) (ada apakah gerangan?)”

Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan keterangan sbb: “Jibril telah datang kepadaku dengan mengatakan : “Barang siapa yang telah datang kepadanya bulan Ramadhan(puasa), kemudian dia tidak mendapatkan pengAMPUNan (pada bulan Ramadhan tersebut), maka ia dimasukkan kedalam api neraka, dan Allah jauh dari dirinya, maka katakanlah :Amin” Kemudian aku meng aminkannya.

“Dan barang siapa yang mendapatkan orang tuanya (ketika keduanya masih hidup), atau salah satu diantara kedua orang tuanya masih hidup, sementara (dia mampu berbuat baik untuk kedua atau salah satu diantara keduanya), kemudian dia tak mau berbuat baik kepada keduanya, atau salah satu diantara keduanya (yang masih hidup tadi), kemudian mati, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka, dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka aku katakan: Amin”

“Dan barang siapa yang dimana namaku disebutkan (didepannya), kemudian dia tak memberikan shalawat kepadaku, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka katakanlah (wahai Muhammad SAW) (amin), maka aku katakan “Amin”

(H.R Ibnu Hibban didalam kitab shahihnya 3:188).

Dari Hadits di atas maka hendaknya pada momentum setelah romadhon ini kita merenung, apakah Allah menjadikan kita termasuk orang beruntung atau merugi. Karena menurut hadits tersebut kita akan merugi apabila setelah Romadhon lewat kita tidak dapat AMPUNAN dari Allah.

Ada beberapa peluang mendapatkan ampunan dari Allah, namun beberapa hal diantaranya sudah terlewat karena adanya pada bulan Romadhon kesempatan tersebut:

1. Berpuasa di bulan romadhon
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan berharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Sholat malam di bulan romadhon
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhori dan Muslim)

3. Sholat malam pada Lailatul qodar
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Sungguh, ketiga amalan tersebut sudah lewat dan baru akan terjadi ketika kita semua sampai pada bulan Romadhon selanjutnya. Pada posisi sekarang kita hanya bisa berharap ketiga amalan tersebut ketika Romadhon lalu Allah terima, sehingga jika Allah terima amal tersebut maka kita mendapatkan peluang ampunan dari Allah.

Allah Ta’ala berfirman, ketika mengkisahkan kisah dua orang anak Adam:

قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

(Salah satu dari anak Adam Itu) berkata: Sesungguhnya Allah Ta’ala hanya menerima amalan dari orang yang bertaqwa (QS. Al Maidah: 27)

Dari ayat di atas kita mengetahui syarat amal kita diterima (termasuk) amal Romadhon kita yang lalu adalah kita mendapati gelar TAQWA dari Allah. Merujuk pada QS Ali Imron 133-134 maka akan kita temukan cirri-ciri orang bertawa tersbut:

a. Orang yang berinfaq baik dalam kondisi lapang maupun sempit.

“Tidak akan menyatu dalam diri manusia, sikap keimanan kepada Allah dan sifat kikir” (perkataan ulama). Dengan demikian hampir tidak mungkin orang beriman itu KIKIR.

b. Orang yang senantiasa menahan amarah

c. Orang yang senantiasa memaafkan sesama manusia

Makna Maaf adalah mampu menghapus goresan yang dibuat oleh orang lain dalam diri kita dan kita tidak ungkit kembali

d. Orang yang berbuat BAIK kepada sesama manusia

Salah satu teladan yang baik sebagai inspirasi untuk memenuhi ciri-ciri orang bertaqwa tersebut adalah kisah Qus bin Saidah. Yang pernah menahan amarah, memaafkan dan bahkan memerdekan budak yang pernah tak sengaja menyebabkan bayinya meninggal.

Kemudian kisah Abu Bakar Ash Shidiq Ra yang memaafkan dan meng-halalkan kesalahan salah satu kerabatnya yang pernah ikut menebar fitnah tentang berita bohong yang pernah menimpa anaknya (istri Nabi).

Dari uraian di atas, maka terbuka peluang ampunan dari Allah kepada kita dengan cara kita memenuhi ciri-ciri orang bertaqwa tersebut (ali Imron 135-134), sehingga sebagai orang bertaqwa Allah akan terima amal kita termasuk amal romadhon kita (al maidah ayat 27), jika Allah terima amal Romadhon kita (Shoum, Qiyamul lail, Sholat malam pada saat Lailatul Qodar) sesuai hadits pada uraian di atas, maka kita terhindar dari orang-orang yang dikatakan celaka seperti yang disampaikan pada hadits do’a jibril as yang diaminkan oleh Nabi ﷺ di atas.

Peluang yg selanjutnya terkait ampunan Allah adalah

4. TIDAK berbuat dosa besar
“Sholat lima waktu, sholat jum’at ke jum’at, berpuasa romadhon ke Romadhon lainnya adalah penghapus Dosa diantaranya jika dijauhi Dosa-dosa Besar (HR. muslim)

-MHK-