Sastra Jiwa

Kenapa Warnet Lebih dipilih Anak-anak Ketimbang Masjid

Wahai Ayahanda Pengurus DKM masjid Se-Dunia. Wahai Jamaah Masjid yang Budiman.

Mengapa warnet lebih dipilih Anak-anak ketimbang masjid ? Padahal masuk warnet bayar sedangkan masuk masjid tidak. Adakah masjid yang terlihat anak-anak berlama-lama di dalamnya? Atau sudahkah kalian Resah melihat masjid isinya adalah hamba-hamba Allah yang sepuh?

Jujur saja, pengamatan singkat setidaknya mampu menjawab keresahan di atas.

1) Masjid Minim berikan perhatian kepada Anak-anak

Saya berimajinasi tentang suatu masjid memberikan sambutan meriah ketika ada anak-anak datang. Misalnya : “Selamat Datang Kaka” dengan wajah senyum dan suara riang karena generasi penerus DKM dan pemkmur masjid sudah tiba, meski usianya masih 3 tahun.

Atau masjid yang sediakan ice Cream Khusus untuk jamaah anak yang hadir. Atau Playground lengkap dengan Prosotan, ayunan, Trampolin dan flying fox. 

Atau hadiah spesial ketika anak-anak terlihat sholat 5 waktu di masjid.

Jika imajinasi ini tidak segera terwujud, mohon maaf, warnet masih akan tetap menjadi tempat favorit anak. Bayangkan saja, ketika login awal suatu games online, anak-anak langsung disambut dengan berbagai intro yang sangat meriah warna-warni, belum lagi disambut dengan sound effects Yang keren. 

Pada suatu babak permainan dan anak-anak berhasil menang, akan ada seremonial yang begitu WAH dan membanggakan, yang membuat anak-anak semakin tertantang sampai ketagihan untuk mengulang sukses lainnya 😑

2) Masjid menjelma jadi tempat menjemukan.

Dirumah jarang dapat apresiasi dan cinta, celakanya di masjid dihardik orang tua dengan alasan berisik dan mengganggu ibadah. Maka Warnet solusi jitu untuk ekspresi, mungkin demikian jalan pikir beberapa Anak.

Datanglah ke masjid Al Mukaromah dekat tempat tinggal kami di jalan Belibis, Pekayon jaya, Bekasi Selatan. Di masjid ini akan terlihat banyak anak-anak usia 3-15 tahun berdatangan dalam waktu-waktu sholat jamaah. Jumlahnya bisa sampai setengah jamaah orang tua.

DKM dan Jamaah masjid ini sangat baik dalam sikapi jamaah anak. Di sini tidak ada Playground, ayunan maupun Prosotan. Tetapi anak-anak dapat kesempatan dan perhatian yang baik.

Selepas adzan berkumandang, jamaah anak diminta sholat terlebih dahulu. Berimamkan salah satu anak-anak dengan jamaah anak-anak juga, sholat jamaah Kloter 1 berjalan khidmat. Selepas salam anak-anak berhamburan di Selasar masjid barulah kemudian jamaah orang tua.

Semua aman, semua damai. Anak-anak dapat posisi yang mulai dan baik. Sekalipun ada anak-anak yang masih ada saat sholat kloter 2, maka tidak pernah muncul hardikan kepada anak-anak yang berlarian atau berteriak ketika sholat berlangsung.

Saya mau bercerita mundur ke zaman tatkala Hasan atau Husein masih kecil dan mengikut ke mesjid bersama kakeknya (Nabi Muhammad SAW). ketika sholat berlangsung tepatnya saat Nabi SAW sujud di suatu Rokaat, Hasan atau Husein naik ke atas Punggung Baginda Nabi SAW Yang mulia. Uniknya Nabi SAW memperlama sujudnya sampai Hasan atau Husein tersebut turun menaiki punggung beliau SAW. Entah apa yang ada di benak Hasan atau Husein, yang pasti Faktanya demikian, Ia memanjat dengan riang Punggung kakeknya yang sedang sujud.

Melihat sujud yang berlangsung lama, para sahabat menduga ada Wahyu yang turun kepada Nabi Saat sujud tersebut, hal ini diketahui selepas sholat ketika Para Sahabat bertanya “Ya Rasulullah, ada apakah Gerangan sampai kita sujud dalam kondisi yang agak panjang, apakah ada Wahyu yang turun?”

Wahai Para DKM dan jamaah, taukah kalian jawaban Nabi SAW?

Tidak ada Wahyu yang turun, hanya saja ketika aku sujud anakku ini menaiki Punggung ku dan aku biarkan sampai Ia puas. Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad [16076], an-Nasa-iy [1141], al-Baihaqi [3423], dan al-Hakim [4775])*

See…?😉

Semoga sampai di sini kita paham. Bahwa Nabi SAW pernah mengajarkan kita menyertakan anak-anak dalam jamaah di masjid dan tidak keberatan dengan tingkah laku mereka. 

Tentu masih banyak cara untuk mengatasi tingkah laku anak ketika dibawa ke masjid, dan hardikan dengan Nada keras bukanlah solusi yang pernah dicontohkan.

Semoga bermanfaat, Mohon maaf lahir batin 🙏

Muhamad Hadi Kusumah

2 Syawal 1438 H

Palmerah, Barat Jakarta.

————————————

*http://musyafa.com/demi-memuroat-perasaan-anak-kecil/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s