Sastra Jiwa

Anak-anak kita adalah Dai Masa Depan : Ikut sertalah Mendidik Mereka

*Anak-anak kita adalah Dai Masa Depan : Ikut sertalah Mendidik Mereka*

Oleh @Muhamadhadikusumah

Wahai Sahabat Di jalan dakwah,
Kita semua sepakat bahwa tidak ada keberlangsungan dakwah melainkan ada perhatian terhadap upaya pembinaan dan kaderisasi. Dan ketahuilah pembinaan serta kaderisasi terdekat adalah terhadap *pasangan, anak-anak dan keluarga terdekat kita*. Demikian Arahan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ dalam QS Asy-Syuara ayat 214

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat,

Wacana yang Harus terbangun adalah bahwa pembinaan atau Tarbiyah terasa berat jika diemban orang per orang atau Keluarga per Keluarga, *karena itu Allah karuniakan nikmat Berjamaah*.

Salah satu bahasan yang mendesak untuk disampaikan adalah *berjamaah dalam proses pembinaan dan pendidikan anak-anak kita.*

Anak sudah mendapatkan Nilai-nilai Tarbiyah dalam keluarga namun hal ini belum cukup melainkan harus dilengkapi dari lingkungan tempat Mereka interaksi, mengingat mereka adalah makhluk sosial. Untuk itu kekompakan lingkungan dalam rangka mendesign Tarbiyah bersama menjadi suatu keharusan untuk dibahas.

Misal jika di rumah sudah diajarkan makan/minum menggunakan Tangan Kanan, maka baik sekali jika lingkungan turut andil mengingatkan apabila anak khilaf atau memberikan apresiasi jika anak tertib 🙂

Beberapa kondisi masyarakat belum siap terhadap hal ini, atau disayangkan jika lingkungan dakwah juga tidak siap akan hal ini.

Fenomena pengurus masjid mengusir dan menghardik anak-anak di masjid seharusnya tidak terjadi, karena tidak memberikan apapun kecuali dampak negatif kepada anak bahwa masjid bukan tempat ramah anak.

Atau lingkungan Dakwah dengan segala penghuninya yang tidak perhatian terhadap anak-anak juga harus menjadi perhatian, mengingat kelak anak-anaklah yang diharapkan menjadi pelanjut dakwah Abi dan Umminya.

*Khawatir Kegiatan syuro atau Liqo terganggu? Gampang, sediakan saja Play Ground lengkap dengan Flying fox nya yang safety dalam standar dunia akhirat :)*

Masih merasa terganggu juga? Silakan renungkan hadits-hadits ini, bagaimana Nabi Muhammad ﷺ memberikan perhatian terhadap anak-anak.

*Pertama,* adalah Sahabat Nabi yang bernama Syaddad ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah datang – ke masjid- mau shalat Isya atau Zuhur atau Asar sambil membawa -salah satu cucunya- Hasan atau Husein, lalu Nabi maju kedepan untuk mengimami shalat dan meletakkan cucunya di sampingnya, kemudian nabi mengangkat takbiratul ihram memukai shalat. Pada saat sujud, Nabi sujudnya sangat lama dan tidak biasanya, maka saya diam-diam mengangkat kepala saya untuk melihat apa gerangan yang terjadi, dan benar saja, saya melihat cucu nabi sedang menunggangi belakang nabi yang sedang bersujud, setelah melihat kejadian itu saya kembali sujud bersama makmum lainnya. Ketika selesai shalat, orang-orang sibuk bertanya, “wahai Rasulullah, baginda sujud sangat lama sekali tadi, sehingga kami sempat mengira telah terjadi apa-apa atau baginda sedang menerima wahyu”. Rasulullah menjawab, “tidak, tidak, tidak terjadi apa-apa, cuma tadi cucuku mengendaraiku, dan saya tidak mau memburu-burunya sampai dia menyelesaikan mainnya dengan sendirinya.”(HR: Nasa’i dan Hakim)

*Kedua,* Abdullah Bin Buraidah meriwayatkan dari ayahandanya: Rasulullah sedang berkhutbah -di mimbar masjid- lalu -kedua cucunya- Hasan dan Husein datang -bermain-main ke masjid- dengan menggunakan kemeja kembar merah dan berjalan dengan sempoyongan jatuh bangun- karena memang masih bayi-, lalu Rasulullah turun dari mimbar masjid dan mengambil kedua cucunya itu dan membawanya naik ke mimbar kembali, lalu Rasulullah berkata, “Maha Benar Allah, bahwa harta dan anak-anak itu adalah fitnah, kalau sudah melihat kedua cucuku ini aku tidak bisa sabar.” Lalu Rasulullah kembali melanjutkan khutbahnya. (HR: Abu Daud)

*Ketiga,* dalam Hadis lain diceritakan, bahwa Rasulullah shalat, dan bila beliau sujud maka Hasan dan Husein bermain menaiki belakang Rasulullah. Lalu, jika ada sahabat-sahabat yang ingin melarang Hasan-Husein maka Rasulullah memberi isyarat untuk membiarkannya, dan apabila setelah selesai shalat rasulullah memangku kedua cucunya itu. (HR: Ibnu Khuzaimah)

*Keempat,* Abu Qatadah ra mengatakan: “Saya melihat Rasulullah saw memikul cucu perempuannya yang bernama Umamah putrinya Zainab di pundaknya, apabila beliau shalat maka pada saat rukuk Rasulullah meletakkan Umamah di lantai dan apabila sudah kembali berdiri dari sujud maka Rasulullah kembali memikul Umamah.” (HR. Bukhari & Muslim)

*Kelima,* pada Riwayat Lain Dari Abu Qatadah, mengatakan “……… pada saat rukuk Rasulullah meletakkan Umamah di lantai dan apabila sudah kembali berdiri dari sujud maka Rasulullah kembali memikul Umamah. Dan Rasulullah terus melakukan hal itu pada setiap rakaatnya sampai beliu selesai shalat.” (HR:Nasa’i)

*Keenam,* dalam hadis yang lain Rasulullah berkata, “Kalau sedang shalat, terkadang saya ingin shalatnya agak panjangan, tapi kalau sudah mendengarkan tangis anak kecil -yang dibawa ibunya ke masjid- maka sayapun menyingkat shalat saya, karena saya tau betapa ibunya tidak enak hati dengan tangisan anaknya itu.” (HR: Bukhari Dan Muslim)

*Ketujuh,* Anas meriwayatkan, “Pernah Rasulullah shalat, lalu beliau mendengar tangis bayi yang dibawa serta ibunya shalat ke masjid, maka Rasulullah pun mempersingkat shalatnya dengan hanya membaca surat ringan atau surat pendek. (HR: Muslim)

*Kedelapan,* pada hadis lain diriwayatkan bahwa Nabi memendekkan bacaannya pada saat shalat Subuh (dimana biasanya selalu panjang), lalu sahabat bertanya: “Ya Raslullah kenapa shalatnya singkat, enggak biasanya? Rasulullah menjawab, “saya mendengar suara tangis bayi, saya kira ibunya ikutan shalat bersama kita, saya kasihan dengan ibunya.” (HR: Ahmad)

*Sembilan,* Sahabat Nabi Yang Bernama Rabi’ menceritakan bahwa pada suatu pagi hari Asyura Rasululah mengirim pesan ke kampung-kampung sekitar kota Madinah, yang bunyinya “Barang siapa yang sudah memulai puasa dari pagi tadi maka silahkan untuk menyelesaikan puasanya, dan bagi yang tidak puasa juga silahkan terus berbuka”. Sejak saat itu kami senantiasa terus berpuasa pada hari Asyura, begitu juga anak-anak kecil kami banyak yang ikutan berpuasa dengan kehendak Allah, dan kami pun ke masjid bersama anak-anak. Di masjid kami menyiapkan mainan khusus buat anak-anak yang terbuat dari wool. Kalau ada dari anak-anak itu yang tidak kuat berpuasa dan menangis minta makan maka kamipun memberi makanan bukaan untuknya”. (HR. Muslim)

*Lcd proyektor yang pecah, Microphone Yang patah, piring yang terbelah, tembok yang kotor karena coretan, suara bising yang menggangu tidaklah senilai dibandingkan dengan kesempatan anak-anak berinteraksi dengan RobbNya di tempat ibadah maupun kantor Dakwah.*

*Jika sejak kecil mereka tidak beredar di sekitar tempat ibadah dan kantor dakwah, maka bersiaplah kerepotan membujuk mereka di usia remaja untuk ke tempat ibadah apalagi kantor Dakwah.*

#KidsZamanNowDaiMasaDepan
#Bareng-barengTarbiyah

Advertisements
Sastra Jiwa

Menanam Semangat, Menebar Ide Demi Berpanen Iman


*Menanam Semangat, Menebar Ide Demi Berpanen Iman.*
Ini adalah hari-hari dimana petani Ide harus lebih giat ke ladang. Menyemai benih, menanam semangat, menebar ide untuk akhirnya Berpanen Iman.
Adakah yang pernah membahas harga Iman? Semahal apakah Ia hingga kisah-kisah sejarah kepahlawanan dalam Islam dengan gagah dan gigih memperjuangkan sesuatu yang tersebut iman.
Nabi Ibrahim As harus berujung pada tungku pembakaran demi mempertahankan Iman. Tak terlepas juga Ismail As putranya yang hampir saja lehernya Putus untuk pembuktian suatu Hal yang tersebut Iman.
Baginda Rasulullah Muhammad Saw sampai mengucur dan mengalir darah mulianya ketika dihardik Bani Thaif.
Rasanya laman ini sangat terbatas untuk mengurai satu persatu kisah perjuangan dalam pembuktian dan perjuangan Iman.
Tersebut dalam QS Ali Imran ayat 91 suatu pendekatan untuk mengetahui harga Iman
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Sungguh, orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong.
Ayat ini dapat membantu kita memahami nilai konversi Iman dengan alat tukar Emas Sepenuh Bumi. Karena dengan Lugas Allah katakan Mereka yang mati dalam kondisi Kafir tidak bisa menebus bahkan dengan Emas Sepenuh Bumi agar mereka terhindar dari Azab Allah.
Ayah, Bunda dan Pembina Tarbiyah Anak, mari bergegas menyiapkan bahan-bahan pelajaran harian untuk anak-anak kita.
Bersemangat dalam setiap perjumpaan dengan mereka. Siapkan hadiah terbaik untuk setiap keberhasilannya.
Jangan lelah menanam semangat Keimanan dalam hati dan pikirannya. 
Jika Sebesar itu Harga Iman yang akan kita Panen, Rasanya lelah hati dalam mendampingi mereka akan sirna manakala benih-benih keimanan mulai bersemi dalam pikiran, hati dan perbuatannya.
Akhukum Fillah

@muhamadhadikusumah
#kidsZamanNowDaiMasaDepan

#SquadArRasyad

Sastra Jiwa

Berdamai dengan KIDS Zaman Now 👋

Berdamai dengan KIDS Zaman Now 👋

@muhamadhadikusumah
Para sosiolog membagi manusia menjadi sejumlah generasi diantaranya : Generasi Baby Boomer, Generasi X, Generasi Y atau milenial dan Generasi Z.
Dewasa ini Generasi milenial dan Z terus diteliti, namun referensi yang beredar didominasi kajian tentang preferensi politik, ekonomi dan gaya hidup Generasi Y dan Z tersebut, pun pada akhirnya akan menjadi konsumsi perusahaan Besar terkait pola pemasaran yang tepat kepada mereka.
Dalam laman tirto.id Hellen Katherina Dari Nielsen Indonesia mengatakan, “Generasi Z adalah masa depan” , maksudnya masa depan pasar dunia 😀. 
Generasi Z dikenal sebagai generasi yang lebih tidak fokus dari milenial, tapi serba bisa, lebih individual, lebih global, berpikiran terbuka, lebih cepat terjun ke dunia kerja, lebih wirausahawan dan ramah teknologi demikian paparan tirto.id pada tema Selamat tinggal generasi milenial dan selamat datang generasi Z.
Ayah &  bunda serta pembina Anak, menyadari kondisi tersebut tentu pegiat Pembinaan Anak mesti melakukan adjustment yaitu suatu penyesuaian *delivery content*. Sekali lagi saya katakan penyesuaian *delivery content.*
Jangan kaget jika anak-anak cenderung tidak bergairah dalam ruang Pembelajaran jika kita masih pakai metode lama atau pendekatan generasi terdahulu.
Setidaknya beberapa hal yang dapat menjadi rekomendasi:
1) mulailah membangun kesadaran *Digital Literatur*. Upaya untuk mendapatkan informasi yang sedang berkembang di dunia Maya mengingat menurut penelitian anak-anak Generasi Z mengakses informasi sebesar-besarnya dari dunia Maya.
2) lakukanlah *kegiatan bersama yang melibatkan sarana dan prasarana media sosial di dalamnya.* penelitian menjelaskan bahwa anak-anak lebih cenderung nonton via YouTube ketimbang bioskop maupun TV. Bayangkan jika Kegiatan bersama anak-anak dapat diunggah ke YouTube dan jadi tontonan mereka sendiri atau teman-teman mereka.
3) Zaman boleh berubah namun *konten Tarbiyah Islamiyyah adalah Ruh kehidupan anak-anak.* Sangat mudah dan besar peluangnya menjalankan seluruh wasail Tarbawi (sarana Pembinaan) yang ramah teknologi dan membangkitkan gairah anak dalam pembelajaran.
#SquadArRasyad

#kidsZamanNowDaiMasaDepan

Sastra Jiwa

​Berkata dan Bersikap Lembut kepada Anak

Ayah dan Bunda serta Pembina Anak,
Tidak dipungkiri dalam berinteraksi dengan anak-anak terkadang muncul rasa kurang sabar ketika melihat sebagian tingkah laku anak.

Terkadang ekspresi tidak sabar bisa berujung pada bentakan, pilihan kata tidak tepat atau bahkan hinaan. Apakah hal ini akan menyelesaikan kekeliruan anak?

Tentu Tidak, Dokter ahli ilmu otak dari Neuroscience Indonesia, Amir Zuhdi, menjelaskan, ketika orangtua membentak, anak akan merasa ketakutan. Ketika muncul rasa takut, produksi hormon kortisol di otak meningkat.

Nah, pada anak-anak, tinginya hormon kortisol itu akan memutuskan sambungan neuron atau sel-sel di otak. Selain itu, akan terjadi percepatan kematian neuron atau apoptosis. Lalu, apa akibatnya jika neuron terganggu?

Menurut beliau , Banyak hal yang bisa terjadi, seperti proses berpikir anak menjadi terganggu, sulit mengambil keputusan, anak tidak bisa menerima informasi dengan baik, tidak bisa membuat perencanaan, hingga akhirnya tidak memiliki kepercayaan diri.

Selanjutnya mari kita tinjau QS Tha-Ha berkenan dengan Arahan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun dalam rangka berdakwah kepada Fir’aun:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ
pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas;
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.

– Surat Tha-Ha, Ayat 43-44

MasyaAllah, sungguh kita tidak lebih mulia dari Nabi-nabi tersebut dan anak-anak kita tidak lebih buruk dari Fir’aun, Namun Allah meminta Manusia Mulia tersebut untuk memilih kata-kata yang baik dalam menemui Manusia sejenis Fir’aun.

Untuk itu pilihan kata-kata dan sikap dalam mendidik merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan.

Maka Bersabarlah 👏

#SquadArRasyad
#TarbiyahAnak
#kidsZamanNowDaiMasaDepan

IG: @muhamadhadikusumah

=======================

Tulisan sebelumnya :
Do’a sebagai langkah awal Sistem Pendidikan Anak.
https://jeehadielbanna.wordpress.com/2017/10/22/%e2%80%8bdoa-sebagai-langkah-awal-sistem-pendidikan-anak/

Rayakan Kesuksesan Anak sekecil apapun suksesnya.
https://jeehadielbanna.wordpress.com/2017/10/24/%e2%80%8brayakan-kesuksesan-anak-sekecil-apapun-suksesnya/

Sastra Jiwa

​Rayakan Kesuksesan Anak sekecil apapun suksesnya

Tersebut dalam kitab Tafsir Ath-thabari  Surat Adh-Dhuhaa Allah pernah meneguhkan hati dan memberikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad  ﷺ tatkala Rasul yang mulia berada dalam perasaan gundah gulana perihal tuduhan kaum Quraisy yang mengatakan “Tuhannya telah meninggalkan Muhammad dan membenci Muhammad” lantaran selama kurun waktu yang cukup panjang Wahyu tak kunjung datang.

Kemudian Allah menurunkan ayat :

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.

•Sura Ad-Dhuhaa, Ayat 3•

Kemudian di penghujung surat Allah Katakan:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).

•Surat Ad-Dhuhaa, Ayah 11•

Ayah, bunda, serta pembina Tarbiyah Anak. Penting rasanya sebagai orang tua dan pembina mampu *mengatasi kegelisahan serta ketakutan anak kita atau binaan kita.*

Pantaslah Nabi Muhammad  ﷺ senantiasa menjadi teladan terdepan dalam ekspresi cinta dan rindu kepada Allah, karena Beliau  ﷺ senantiasa merasakan kenyamanan serta bantuan dari Allah dalam setiap gundah gulananya. 

Jangan ada yang bangga menjadi Pembina atau orang tua yang ditakuti oleh anak atau binaan. *Karena pendidikan tidak diselenggarakan untuk membuat ketakutan yang bukan porsinya.*

Kemudian, hal lain dari Kandungan Adh-Dhuhaa adalah diperkenankan oleh Allah agar kita menceritakan nikmat dari Allah sebagai bentuk rasa syukur.

*Saatnya kita Rayakan kesuksesan anak kita sekecil apapun suksesnya!!!!* Jangan lengah dan tidak peka terhadap setiap detail kesuksesan anak.

*Jangan sampai terlewat mengucapkan selamat dan bahkan memberikan hadiah bagi anak yang telah Sholat 5 waktu*. Jika kita abai memberikan apresiasi, maka jangan kaget apabila anak menganggap sholat ini sesuatu hal yang biasa-biasa saja dan tidak ada kebanggaan apabila telah berhasil melakukannya.

Jangan kalah dengan Games Online, *mereka adalah apresiator terbaik dan sahabat terbaik bagi anak*. Kenapa? Karena games online tidak pernah absen atau lalai merayakan kesuksesan anak dalam setiap episode games yang ada. Lihatlah, mereka berikan balon, ice cream, atau ucapan Congratulations, You are The WINNER 👏

sudah dapat jawaban kenapa anak-anak mampu berlama-lama di *dunia Maya* dengan games online? 

Ya, barangkali mereka tidak temukan apresiasi dan perayaan yang sama di *dunia Nyata.*

Yuks, *kecup keningnya, peluk tubuhnya, bisikan “kamu hebat Nak, semua orang bangga kamu telah berhasil sholat 5 waktu”.*
Wakafkan waktu, segera kayuh sepeda, start your engine, ambil payung, lalu *antar anak kita ke Halaqohnya dengan ceria*. Jemput dengan penuh bangga. Berikan ucapkan selamat karena telah sukses menuntut ilmu. 

Pergi ke tukang pembuat piala, *pesankan piala untuk anak kita*, cari Prestasi anak kita, cantumkan dalam plat emas piala tersebut lalu serahkanlah kepadanya. Penuhi ruang tamu dengan piala tersebut. Setidaknya untuk setiap butir nasi yang habis dimakan merupakan nominasi prestasi yang patut diapresiasi.

Maka Rayakanlah 👏
#SquadArRasyad

#TarbiyahAnak

#kidsZamanNowDaiMasaDepan
@muhamadhadikusumah
====================
Tulisan sebelumnya :

*Do’a sebagai langkah awal Sistem Pendidikan Anak.*

https://jeehadielbanna.wordpress.com/2017/10/22/%e2%80%8bdoa-sebagai-langkah-awal-sistem-pendidikan-anak/

Sastra Jiwa

​Do’a Sebagai Langkah Awal Sistem Pendidikan Anak

Ayah Dan Bunda,  Mari kita Lihat rangkaian do’a yang pernah dilantunkan oleh para Nabi dan Rasul yang mulia, Niscaya kita akan menemukan Kegelisahan yang mereka rasakan dan Visi Besar yang mereka bangun.

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا .

Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan *aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.*

Dan sungguh, aku khawatir terhadap keturunanku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, 

(Surah Maryam, Ayat 4-5)

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, *“Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”*

(Surah Ali Imran, Ayat 38)

Surat ini menggambarkan Kegelisahan Nabi Zakaria As terhadap masa depan amanah dakwah yang diemban. Perhatikan kalimat *aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.*. Perkataan halus, lembut dan Romantis ini mengajarkan kita kekuatan membaja dalam melibatkan Allah pada seluruh awal rencana kita.

Ya, Do’a adalah kekuatan awal dalam melukis Masa Depan. *Terkadang batas dan perbedaan kesusksesan kita dengan mukmin yang lain adalah siapa yang Lebih dahulu berdo’a dan meminta kepada Allah*.

Ada yang sudah lebih dahulu berdo’a atau dido’akan sejak kecil menjadi pemimpin 21 perusahaan. Ada yang lebih dahulu berdo’a atau dido’akan sejak kecil agar mendapatkan jodoh yang Sholih-sholihah.

*Perhatikan Lagi*

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ .

Ya Tuhanku, *jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.*

(Sura Ibrahim, Ayat 40)

Ayah dan Bunda, mari sama-sama perhatian dan mulai segala aktivitas termasuk Rencana Pendidikan Anak dengan melibatkan Allah sejak awal dalam bentuk Do’a sebagai bentuk kerendahan hati serta sadar posisi bahwa penentu segalanya adalah Allah SWT.

Mari do’akan sistem pendidikan kita mampu menghasilkan anak-anak yang Sholih-sholihah yang kelak menjadi pengemban dakwah Dan Pelanjut Tarbiyah.

Jangan tunggu anak besar baru berdoa tentang Jodoh dan karirnya. Mulailah berdoa agar anak kita dapat kesehatan prima, sekolah yang unggul, jodoh yang baik, karir dan profesi yang berkah, terdepan dalam membela Islam dan Ummat, menjadi Murobbi/ah yang Muntijah, ahli  Mabit dan Dauroh 😀 dan seterusnya.

#SquadArRasyad

#TarbiyahAnak

#kidsZamanNowDaiMasaDepan

Semoga Allah mudahkan berlanjut ke tulisan selanjutnya 🙏

IG: @muhamadhadikusumah

Sastra Jiwa

Bersama ALLAH TNI Kuat !!!

Sesungguhnya di sisi Allah saja Sumber Kekuatan itu, karenanya dengan kesadaran yang luhur bangsa ini memulai Pembukaan Undang-undang Dasarnya dengan kalimat: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Namun, kekuatan Manusia tidaklah abadi, lemah lembutlah selagi Kuat, semoga Engkau dapatkan kasih sayang selagi Lemah.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi KUAT, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa. -Sura Ar-Rum, Ayah 54-
#huttni72 

#bersamaALLAHmenjadiKUAT